Yah, Mau Bagaimana Lagi Namanya Juga…

Dok. Wikihow

Aku melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA di Kota Bengkulu tahun 2009. Saat itu motor pertamaku adalah Honda Astrea Green yang super irit dan terkenal jadulnya. Yah, mau bagaimana lagi namanya juga dibelikan orangtua.

Hanya satu tahun aku mengendarai motor itu ke sekolah. Aku kecelakaan, motorku hancur sudah. Setelah peristiwa itu aku merengek pada orangtua agar dibelikan motor baru, tapi aku harus manut dengan pilihan mereka. Aku dibelikan motor Revo capung seken warna biru. Yah, mau bagaimana lagi namanya juga dibelikan orangtua.

Tahun 2012 aku lulus dari SMA. Di dunia perkuliahan aku sudah mulai mengenal gengsi. Aku tinggal di kos dekat kampus, sehingga aku memilih jalan kaki saja ketimbang naik motor. Akhirnya Revo dijual orangtua.

Masuk tahun 2014 seorang teman perempuan memakai motor Suzuki FU. Sebenarnya motor itu sudah rilis sejak lama. Karena bisa mengendarai motor kopling, aku minta dibelikan motor itu. Ibu janji akan membelikannya saat adikku masuk kuliah tahun 2015. Baiklah, aku mengiyakan dengan harapan besar kala itu.

Sampai pada akhirnya tiba hari yang dijanjikan, aku kembali menelan janji pahit. Dengan berbagai alasan ibu membelikan kami motor Mio keluaran terbaru saat itu. Aku manut. Yah, mau bagaimana lagi namanya juga dibelikan orangtua.

Mungkin dalam pikiran orangtuaku motor itu bisa mengobati keinginanku soal Suzuki FU. Tapi tidak, sampai sekarang aku masih memimpikan motor itu. Saat menikah, aku sampaikan keinginanku pada suami dan dia bersedia memenuhinya. Sayangnya sekarang aku sudah menjadi ibu dan pilihannya tetap motor matic biar gampang bawa barang. dan anak. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi namanya juga sudah jadi orangtua.