
Ternyata begini rasanya dewasa. urat-urat saraf sering tegang. Kepala mudah pusing. Badan 3L alias lemah letih lesu dan gampang kena stres. Apalagi di usiaku yang sekarang ini. Meski baru dua puluhan, aku sering didatangi stres setelah dikepung banyak persoalan di lingkar pertemanan, pekerjaan, keuangan, dan emm.. percintaan.
Tiap generasi punya cara masing-masing untuk mengatasi stres. Nah, sebagai gen Z, aku juga punya cara sendiri yakni nyeblak time. Biasanya aku melampiaskan stres dengan menyantap makanan pedas. Rasa pedas asin pada seblak kerap menyelinap di antara retakan tembok dengan poster-poster berisi masalah dalam kepalaku. Namun, aku baru bisa memindah rasa pedas itu ke dalam lidahku ketika hari jumat.
Maklum, kami tinggal di kebun. Untuk mendapatkan seblak kami harus keluar kebun dan menempuh perjalanan sekitar 20 menitan, jadi hari Jumat merupakan hari yang pas karena jam kerja selesai lebih cepat. FYI, seblak langgananku ini cepat sekali habis sehingga kami harus datang lebih awal supaya tidak kehabisan.
Teteh, sapaan akrabku ke penjual seblak, sudah mengenal kami karena telah menjadi langganan. Bahkan kami sampai bertukar WA supaya aku tahu kapan warung seblak buka. Biasanya aku akan memesan seblak level pedas. Tingkatannya naik ketika aku sedang stres. Aku akan memesan seblak level pedas banget yang ketika aku memakannya lidahku akan terasa terbakar, keringat bercucuran, dan telingaku panas.
Ya walaupun masalah yang kuhadapi tidak terselesaikan setidaknya kuah dari seblak yang panas, asin dan pedas membantu kembali menormalkan semua urat yang menegang dan kepala yang terasa penuh ini.
Selain nyeblak time, cara ampuh lainnya adalah liburan. Sepertinya sudah bukan rahasia lagi bahwa liburan adalah obat stres yang ampuh. Tahun lalu aku liburan ke Yogyakarta menggunaan travel. Aku memilih Yogya karena kota itu kabarnya pereda stres paling ampuh untuk wisatawan.
Saat di Yogya aku benar-benar tidak memikirkan apa pun selain menikmati liburanku. Aku menikmati kota Yogya dengan segala cerita dan keramahannya. Makan makanan yang belum pernah aku coba, berkunjung ke museum, jalan-jalan ke alam, dan aktivitas lainnya di sana.
Kepulangan ke Bengkulu adalah momen terberat saat itu. Rasanya enggan sekali berpisah dengan kota itu. Namun, pekerjaan sudah menunggu sehingga tetap pulang walau dengan berat hati. Stres datang dan pergi. Bisa sesekali atau seringkali. Pulang dari Yogya aku kena stres lagi setelah melihat mutasi transfer dan saldo. Namun, tak apalah, yang penting kita (sempat) merasakan bahagia.




Leave a Reply