Kampung ‘Penitipan’ Anak

Santi Lastri

Kids
Dok.Deccanchronicle

Minggu lalu aku dan suami pulang kampung. Kami hanya membawa Roman, anak paling kecil. Kedua abangnya tidak ikut karena mereka akan segera masuk sekolah. Jadinya mereka kami titipkan di rumah kakakku. Kami pulang kampung setelah mendengar kabar emak sedang sakit dan ingin kami pulang. Setelah dua hari dua malam perjalanan kami tiba di kampungku.

Emak sangat senang melihat kami datang bersama Roman. Anakku itu memeluk emak menuruti ucapanku. Kehadiran Roman membuat emakku tambah semangat. Melihat aksi Roman bernyanyi, berjoget, makan sendiri, bahkan mendengar Roman ngomong emakku senang. Kami bahagia melihat emak sudah semangat. Aku memanfaatkan waktu seminggu merawat emak. Emakku minta supaya kami tidak membawa Roman pulang ke Bengkulu. Roman akan diasuhnya di kampung. Aku tidak memberi jawaban, hanya memeluk emak lalu memegang pipinya sambil tersenyum.

Sebelum pulang ke Bengkulu kami menyempatkan berkunjung ke rumah mertua yang tidak jauh dari rumahku. Waktu tempuhnya hanya tiga jam perjalanan. Saat sampai di sana giliran mertuaku yang sangat bahagia melihat aksi dan celotehnya Roman. Malamnya kami sempatkan ngobrol dengan mertuaku, melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu.

Mertuaku tiba-tiba minta Roman supaya tinggal di kampung. Mertuaku sangat serius meminta Roman tinggal di kampung, bahkan sudah membicarakan strategi supaya Roman tidak melihat kami pulang ke Bengkulu. Suamikupun langsung menolak permintaan mertuaku. Roman menjadi rebutan mertua dan emakku.

Mertuaku tidak menyerah. Dia merayuku lagi supaya Roman tinggal. Katanya saat ini di kampung mertuaku sedang musim opung-opung (nenek-nenek) momong cucu. Ibu mertuaku cerita bahwa di kampung itu sudah banyak yang menitipkan anaknya ke emaknya. Ada yang dari Batam, Jakarta, Pekanbaru, entah dari mana lagi. Aku kaget mendengarnya. Masa ada anak tega merepotkan emaknya di kampung untuk mengasuh anaknya. Bahkan ada bayi yang masih empat bulan lho. Sungguh tega.

Bagaimana dengan pembaca Nyalanya? apakah tega menitipkan anaknya yang masih bayi ke emaknya?. Aku sih enggak tega. Musim rambutan, musim mangga bahkan musim durian sangat menyenangkan buatku, tapi musim opung-opung momong cucu aku tidak suka. Apalagi harus menitipkan Romanku ke emak atau mertuaku, aku enggak setuju.

Santi Lastri
Pengurus Yayasan Bidang Umum Tenera



Genre:

Tema: