
Pada suatu sore yang cerah, ketika angin bertiup lembut, aku bertemu Dika di sebuah cafe kecil di sudut kota. Cafe itu menjadi tempat favoritku untuk menyepi, menenangkan diri setelah bertempur di hari-hari yang panjang.
Wajah Dika sore itu lebih tampan dari biasanya. Senyum dan tatapan matanya menjangkar hatiku. Aku menjadi canggung dan tanpa sengaja tangan kami bersentuhan saat mengambil cangkir kopi.
Dika, mencairkan kebekukan setelah momen indah itu. Dia mengajakku berbincang. Pembicaraan kami mengalir begitu saja, mulai dari topik ringan seperti musik hingga berbicara tentang mimpi besar. Aku merasa nyaman berbicara dengannya, seolah-olah telah lama mengenalnya.
Tanpa aku sadari, ada rasa hangat yang menjalari tubuhku. Perasaan Ini bukan sekadar kekaguman atau rasa suka biasa. Perasaan ini lebih dalam, mungkin hanya bisa dirasakan sekali dalam hidup.
Hari-hari berikutnya, kami semakin sering bertemu. Setiap kali nama Dika disebut, hatiku berdebar-debar. Aku mulai menyadari bahwa ini adalah cinta pertama yang datang tanpa peringatan, menarik perhatian dari segala hal yang aku kenal sebelumnya. Kami berbagi banyak momen bersama, mulai dari berjalan-jalan di taman hingga menonton film. Cinta kami tumbuh dalam keheningan yang indah, seperti bunga yang berkembang perlahan tanpa paksaan.
Namun, cinta pertama tidak selalu mudah. Seiring berjalannya waktu, aku mulai merasakan ketakutan akan kehilangan. Setiap kali Dika menghabiskan waktu bersama teman-temannya atau tidak menghubungiku, aku merasa cemas. Aku mulai ragu apakah dia merasakan hal yang sama.
Meski begitu, aku berusaha untuk tetap tenang dan menikmati setiap detik yang ada. Aku tahu, cinta pertama sering kali datang dengan rasa ketidakpastian, dan itu adalah bagian dari perjalanan yang harus dilalui.
Suatu malam, di bawah langit yang penuh bintang, Dika mengungkapkan perasaannya. Dia berkata bahwa dia juga merasakan hal yang sama, bahwa ini adalah cinta pertama yang tulus dan tak tergantikan. Pada saat itu, aku merasa dunia ini hanya milik kami berdua.
Meskipun masa depan tidak ada jaminannya, aku merasa bahagia hanya dengan mengetahui bahwa kami saling mencintai di waktu yang tepat. Cinta pertama memang penuh dengan kegelisahan, namun juga dipenuhi dengan keindahan yang tak akan pernah terlupakan.








Leave a Reply