
Ada masa ketika pagiku tidak disambut matahari melainkan media sosial. Notifikasi WhatsApp, Instagram, Twitter menyergap inderaku yang bahkan belum sempat disapu cahaya matahari.
Aku bilang pada diriku itu normal. Siapa sih yang nggak begitu? Namun, lama-lama aku sadar telah kehilangan sesuatu. Kehilangan fokus, waktu, bahkan diriku sendiri. Aku jadi cemas saat ponsel mati.
Aku yang tinggal di pedesaan mulai diserang gangguan kecemasan dan ketika mendapat banyak tekanan dari segala penjuru. Kerja, menjadi ibu empat anak, mengurus ternak, belum lagi berbagai grup WhatsApp keluarga isinya hoaks. Setiap buka Instagram teman- teman sudah liburan sementara aku baru bayar cicilan. Hehehe.
Suatu saat aku terbangun jam tiga pagi. Aku menggenggam ponsel. Mataku tiba-tiba lelah dan hati kosong. Saat itulah aku memutuskan untuk detoks digital dengan menghapus semua aplikasi media sosial. Aku matikan notifikasi, beli lilin aromaterapi, kemudian pasang status terakhir di WA: lagi healing, jangan diganggu. Kecuali Shopee Flash Sale.
Hari pertama aku nyaris gila. Tanganku refleks meraba ke arah ponsel berkali –kali. Aku duduk di teras rumah ditemani suara jangkrik. Ada angin menyapu rambutku disusul anak kecil yang mengajak bermain.
Hari kedua, aku mulai menulis jurnal. Membaca buku, rasanya damai. Membuat kopi tanpa buru- buru memotretnya. Menikmati makanan tanpa berpikir soal caption dan tidur lebih cepat. Hari ketiga mulai gelisah. Tangan mulai gatal buka Instagram. Akhirnya iseng buka kulkas tiap 15 menit. Isinya tetap: telur, saos, dan harapan.
Di hari ketiga itu aku mulai berimajinasi sedang scroll TikTok. Akhirnya, di hari keempat, aku menyerah. Aku mengunduh semua aplikasi lagi sambil tertawa seperti penjahat sinetron. Namun, ada yang berbeda setelah kembali ke dunia yang penuh notifikasi itu.
Aku menjadi lebih selektif. Aku bisa memilah, mana yang penting dibaca dan mana yang harus di-skip. ‘Menghilang’ selama tiga hari dari medsos ternyata mengubah cara pandang dan perilaku. Hal ini menyadarkanku, diam itu tak selalu sepi. Ada ruang untuk berpikir. Untuk kembali mendengar isi kepala sendiri tanpa distraksi seperti notifikasi.
Saya tak lagi panik buka semua notifikasi. Grup WA keluarga? Diarsipkan. Instagram? Scroll 10 menit cukup. Overthinking? Masih, tapi sekarang ditemani playlist lo-fi dan cemilan. Ternyata dengan menghilang tiga hari, aku bisa menghilangkan stress. Pada akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan bahwa yang bikin stress bukan dunia dengan segala persoalannya melainkan kita sendiri. Kita kadang lupa, lalu leka, di mana tombol mute-nya.




Leave a Reply