Simpel tapi Ngeselin

Dok.Wikihow

Aku kira setelah tamat sekolah bakalan nggak ada lagi yang namanya buat cerita. Namun, ternyata tidak begitu. Aku disuruh bikin cerita (lagi).

Hai. Namaku Rolina. Aku mau berbagi pengalamanku di tempat kerjaku, Mathagia. Aku adalah karyawan paling kecil sekaligus termuda di sana. Kondisi fisik itu membuatku jadi pusat perhatian para pelanggan. Mereka sering bertanya aku kelas berapa, kenapa sudah kerja dan lain sebagainya.

Pertanyaan seperti itu sering aku dapat dari pelanggan yang datang untuk berbelanja. Bahkan, pernah tuh ya ada yang bilang aku ini adalah anak salah satu teman kerjaku. Tapi cerita ini bukan hanya tentang itu sih.

Pernah nih ada pelanggan yang datang ke toko ketika aku sedang menyortir telur. Terus dia bilang ke aku kalai dia mau telur satu karpet. Aku jawab sambil menunjuk ke arah telur yang telah disortir, diikat, dan siap diambil. Dia malah nggak mau. Yang dia mau adalah telur yang nggak ada bekas kotoran.

Karena males berdebat jadi aku diamkan sambil aku perhatikan. Semakin diperhatikan tingkah pelanggan itu semakin menjadi-jadi. Mulai pilih telur sendiri. Aku menegurnya dengan suara yang agak tegas tapi tetap sopan. Aku ulangi bahwa jangan memilih telur.

“Kalau telurnya ibuk pilihin semua, sisanya siapa yang mau beli?”

Tapi ibu itu tetap memilih telur. Aku diam saja. Pas dia minta tolong mengikat telur pilihannya aku bilang nggak mau terus memaksa. “Masak gara-gara begini saja nggak bisa minta tolong sama mu,” kata ibu itu.

Lalu dia minta tolong ke teman yang baru masuk kerja atau anak baru. Namun, temanku itu nggak bisa mengikat karpet telur dan akhirnya berujung si ibuk membawa telur tanpa karpet. Cuma dimasukin ke asoy atau kresek. Kejadiannya simpel tapi ngeselin.

Sumpah deh, kalau ketemu yang kayak gini tiap hari bisa-bisa resign dari tempat kerja sih. Itulah kustomer ingin dilayani dengan baik tapi lupa cara menghargai. Kerja memang capek tapi yang paing capek adalah mengontrol emosi saat bertemu dengan pelanggan yang seenaknya dan mau menang sendiri. Inilah ceritaku yang berusaha untuk sabar dengan dada setipis tisu ini.

Babay.