Kenangan Pesawat Mainan 17-an

Agustus adalah bulan perayaan hari kemerdekaan. Biasanya banyak pernak-pernik hiasan merah putih yang dijual di pinggir jalan. Paling banyak yang ditemui adalah bendera merah putih berbagai ukuran. Ada bendera ukuran kecil yang bisa diikat di motor dan mobil. Ada juga bendera ukuran besar pada tiang atau kayu panjang yang dipasang di depan rumah atau di kantor.

Selain itu ada juga pernak-pernik hiasan HUT RI yang menarik dalam bentuk lampion, bola, bunga, dan banyak lagi hiasan menarik dengan kreasi yang berbeda. Di antara sekian banyak pernak-pernik 17-an, aku sangat tertarik dengan pesawat mainan. Aku sangat menyukai mainan itu. Pesawat mainan itu dibuat dari gabus berwarna lalu digambari bendera kecil pada badan pesawat. Mainan itu juga memiliki penyangga kayu atau bambu sepanjang 50 cm. 

Ada kenangan masa lalu  yang tak terlupakan dari pesawat 17-an itu. Kenangan bersama adik kembarku. Waktu itu aku masih duduk di bangku SD sedangkan adik kembar masih berumur 3 tahun. Adik kembar yang tua sangat menyukai mainan pesawat 17-an. Sedangkan adik kembarku yang muda menyukai mainan pistolan yang ada pelurunya lengket di lantai atau dinding.

Orangtuaku selalu mengajak kami jalan-jalan menjelang perayaan 17 Agustus-an. Kami sangat senang sekali jalan-jalan sambil makan jajanan kue dan es buah. Aku selalu meminta ibu agar mau membelikan pesawat mainan 17-an untuk adik kembarku yang tua. Karena adik kembarku yang satu ini agak pendiam, tidak banyak permintaan. Dia berbeda sekali dengan adikku yang muda, suka berceloteh. 

Setelah mendapatkan dua mainan pesawat, kami langsung bermain berdua. Dengan tertawa lepas kami berdua bermain mainan pesawat 17-an. Secara bergantian mengeluarkan suara pesawat.  Zuuuuuuuu….zuuuuuuuu  suara adikku menirukan suara pesawat. Aku terus mengamati adikku kemudian langsung kupeluk erat-erat dan mencium pipinya. Jiwaku sangat sedih dan terasa sesak dadaku karena tiga hari kemudian adikku akan dioperasi bagian perutnya. 

Tibalah hari yang menakutkan bagiku yaitu adikku harus bersiap-siap masuk ke ruang inap perawatan di salah satu rumah sakit umum. Aku dan orangtuaku mengajak adik kembar untuk bercerita dan bercanda. Lalu aku mengambil dua mainan pesawat 17-an. Mata adikku berbinar dan tersenyum senang  melihat mainan kesukaannya. Aku langsung memberikan mainan pesawat 17-an kepada adikku. Setelah itu aku memegang tangannya menggoyang-goyangkan mainan pesawat. Tanpa terasa air mataku meleleh.

Adikku kemudian mengeluarkan suara pesawatnya zuuuuuuuu..zuuuuuuuu. Aku pun menirukan suaranya. Kami berdua tertawa lepas. Tanpa sengaja aku melihat kedua orangtuaku tersenyum dan mengeluarkan air mata di belakang kami. 

Sekitar dua jam di ruang inap, tiba-tiba datang seorang dokter mengatakan agar adikku akan dibawa ke ruang operasi. Jantungku berdetak cepat sekali, badanku gemetar. Aku ikut membantu mendorong bed yang ada rodanya ke arah kamar operasi. Tiba-tiba adikku melambaikan tangannya sambil berkata dadah kakak. Aku pun membalas lambaiannya.

“Dadah dedek,” kataku sambil terus mengeluarkan air mata. 

Kami menunggu operasi sekitar tiga jam lamanya. Aku dan orangtuaku terus berjalan bolak-balik sambil melihat pintu operasi. Akhirnya terbukalah pintu operasi dan seorang dokter menyampaikan bahwa adikku mengalami pendarahan saat operasi sehingga tidak terselamatkan. Tuhan mengambil adikku saat operasi yang mengenaskan itu.

Dengan sekuat tenaga aku berlari kencang masuk ke ruang operasi dan memeluk adikku yang terbujur kaku. Lalu aku mengambil mainan pesawat sambil berteriak keras. “Ayo, kita main-main pesawat ini yok dek!” sambil memegang tangan adikku. Aku terus menggoyangkan tangan adikku berharap adikku bangun.

Aku benar-benar histeris dan jiwaku meronta-ronta karena belum siap kehilangan adikku. Air mataku terus mengalir dan suaraku habis. Tiba-tiba ada tepukan tangan dari belakang yaitu ayahku menasehati dan menguatkanku supaya aku ikhlas dengan kepergian adikku. Kami berdoa bersama agar Tuhan menyambut adikku di surga.