Berasa CEO di Bazar Tenera

Dok.Wikihow

Hari itu adalah hari yang dinanti banyak orang. Bazar tahunan yang diadakan setiap tahun sekali akan segera dimulai. Guest House yang biasanya sepi dipenuhi suara riang gembira dan aroma makanan menggugah selera.

Aku bersama teman-teman sibuk mempersiapkan tenda berbagai macam makanan dan minuman. Kami bersemangat menyambut para pengunjung dan ingin menunjukkan apa yang kami miliki. Bazar Sikola Kumpul Galo bukan hanya tentang berjualan, tapi juga tentang berkumpul dan bersosialisasi dengan orang lain. Kami semua menantikan hari ini dengan penuh kegembiraan dan harapan. 

Selain berstatus sebagai guru muda yang mengajar di Sekolah Dasar (SD), aku juga terlibat dalam bazar sebagai koordinator tenda bebakaran. Bazar itu diketuai Bu Juni Anita Purba, yang sangat berdedikasi dan memiliki semangat tinggi. Ada banyak kegiatan yang dilakukan selama lima hari: pertunjukan anak-anak, perlombaan, dan tenda yang menjual berbagai macam makanan, minuman, dan barang lainnya.

Aku bersama siswa dan siswi menjual bakso bakar, sosis kecil, sosis besar, dan otak-otak. Sebelum acara dimulai, kami melakukan simulasi bazar, tapi sayangnya alat pemanggangku rusak. Aku harus mengajukan alat baru tetapi untungnya bisa mendapatkannya tepat waktu. Kami semua sangat giat menjual makanan agar menghasilkan uang sebanyak mungkin. Kami kompak sehingga makanan kami laris.

Persiapan kami matang dan serius. Sebelum hari H, kami sudah menyiapkan semua bahan dan barang untuk lima hari. Otak-otak dan sosis bisa disimpan dalam lemari pendingin tapi bakso memerlukan perhatian khusus. Kami membeli 5 kg daging ayam dan 8 kg tepung kemudian kami olah menjadi adonan bakso. Proses pembuatan bakso cukup melelahkan karena harus membentuk adonan menjadi kecil. Kami bekerja mulai jam sebelas pagi sampai tujuh malam selama dua hari dan menghasilkan 1788 tusuk bakso dari 13 kg adonan.

Aku punya kans membimbing tim di tenda kami. Ada 15 orang yang terdiri dari tiga anak SMA, tiga SMP, dan sembilan anak SD. Aku mengajari mereka melayani pembeli dengan baik: menyambut ramah, menjawab pertanyaan, dan mengantarkan pesanan dengan cepat. Aku juga mengajarkan mereka bagaimana membuat laporan keuangan sederhana, menghitung modal, uang masuk, dan uang keluar. Selain itu, aku juga memberi tahu mereka tentang logistik seperti tempat penyimpanan barang, jumlah stok, dan bagaimana cara meminta bantuan jika ada kekurangan barang. 

Aku ingin mereka tahu bahwa komunikasi yang baik adalah salah satu kunci dalam menjalankan usaha. Anak-anak sangat antusias dan cepat memahami apa yang aku ajarkan. Mereka sangat bersemangat untuk mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari. Semoga pengalaman itu dapat membantu mereka mengembangkan keterampilan dan menumbuhkan jiwa wirausaha. 

Kerja keras kami terbayar lunas pada hari pertama bazar. Jualan kami laris manis! Kami rela berdiri berjam-jam melayani pembeli, terutama anak-anak SD yang menyukai menu bebakaran kami. Antrian panjang terlihat di depan tenda kami. Kami sempat kewalahan mengelola permintaan pembeli. Namun, karena sudah banyak hal yang aku ajarkan, anak-anak tidak mau lempar handuk melayani pembeli. Jadi aku sebagai koordinator bisa santui menikmati acara, keliling area, dan jajan sambil mengamati mereka dari kejauhan. 

Kami tidak kehabisan stok berkat persiapan yang matang sebelumnya. Kami menyimpan semua bahan di freezer untuk memastikan kesegaran agar siap jual. Hari pertama benar-benar sukses. Tapi ada beberapa kejadian lucu yang terjadi selama lima hari bazar. 

Di hari pertama,  saya sudah pesan kepada anak-anak untuk menyimpan wadah atau plastik sosis. Sebab, jika mengumpulkan 20 bungkus sosis besar, wadah atau plastiknya bisa ditukarkan satu bungkus sosis besar di toko. Tapi,  seorang anak tidak sengaja membuang plastiknya.

Aku sedikit kesal sehingga mencari bungkus sosis besar itu beberapa tong sampah.  Seorang anak meminta agar aku berhenti membongkar ton sampah. Biarlah hilang karena buat apa membongkar tong  cuma untuk satu sampah plastik sosis katanya. Aku beri pengertian kepada anak-anak bahwa satu bungkus sosis isi 14, jika kita jual 14 x Rp.5000 maka kita akan mendapatkan tambahan keuntungan sebesar 70.000.  Sekarang kita punya 40 bungkus sosis besar.  Jika kita tukar akan mendapatkan dua bungkus sosis dengan kalkulasi 28 x Rp. 5000 hasilnya Rp.140.000. Lumayan kan. 

Aku menemukan kotak sampah warna hijau besar—seperti petunjuk anak-anak ke mana kawan mereka membuangnya. Aku berpikir bagaimana cara mengambilnya sedangkan tong itu sudah penuh sampah. Tiba-tiba seorang perempuan datang dengan wajah sedih. Aku tak tahu namanya tetapi dia cerita kehilangan plastik hitam berisi barang-barangnya dari desa sebelah. 

Aku berpikir untuk memanfaatkan dia. Namun, belum sempat aku  ngomong tiba-tiba pengunjung itu menumpahkan tong sampah itu lalu mengais, memilah, mencari barangnya tetapi tidak ketemu. Plastik sosis yang aku cari pun juga tidak ketemu, sedih kali. Anak-anak tertawa, menganggapnya sebagai lelucon.

Bazar hari berapa aku lupa, ada juga kejadian lucu. Aku melihat seorang anak kelas 2 SD bernama Anes menyelipkan uang jajan dalam kaus kaki. Katanya biar gak hilang.  Aku tidak bisa menahan senyum melihat tingkahnya. 

Setiap hari aku melihat anak-anak di tenda kami semakin mandiri. Tanpa aku suruh, mereka sudah bisa menyusun dan menutup tenda sendiri. Mereka juga semakin pandai menghitung uang. Aku merasa seperti CEO yang mengawasi bisnis kecil-kecilan. Anak-anak ini benar-benar luar biasa! Mereka cepat belajar dan beradaptasi. Aku merasa berhasil membimbing mereka menjadi pengusaha cerdas dan mandiri.

Semoga pengalaman ini bisa membawa mereka jauh lebih sukses di masa depan. Doaku semoga anak-anak ini nanti menjadi pengusaha sukses. Aku juga ingin menjadi pengusaha tapi lebih memilih dan fokus dengan profesiku sekarang karena menjadi guru adalah panggilan yang tulus. Meski gaji tidak seberapa tapi melihat anak didik tumbuh dan berkembang adalah kebahagiaan tersendiri.

Kami menghitung semua keuntungan dan membuat laporan kegiatan. Anak-anak sangat senang karena kami berhasil menghasilkan uang yang banyak. Mereka belajar banyak tentang wirausaha.

Sikola Kumpul Galo tahun ini sangat sukses dan meriah. Semua warga Tenera sangat bersemangat dan bekerja sama dengan baik. Aku sangat bangga menjadi bagian dari acara ini dan tidak sabar untuk mengikuti acara tahun depan. Semoga acara ini bisa menjadi lebih besar dan meriah lagi.