
Ketika diminta menulis tentang guru favorit semasa sekolah, saya langsung teringat pada sosok guru yang awalnya bikin jantung kerja lembur tapi akhirnya justru menjadi panutan hidup. Dia adalah Bapak M. Pardede, atau yang biasa kami panggil Pak MP, guru matematika SMA.
Di akhir masa SMP, sebenarnya saya ingin masuk SMK, karena hobi mengotak-atik barang elektronik. Cita-citanya sederhana, pegang obeng, bongkar pasang radio—meski rusaknya justru makin parah. Sayangnya, setelah melihat kebutuhan biaya SMK, keinginan itu saya simpan bersama mimpi-mimpi lain.
Saya lalu beralih rencana ke SMA Neger. Namun rencana tinggal rencana. Saat itu penerimaan siswa masih menggunakan NEM sedangkan nilai saya tidak cukup. Sialnya lagi, ketika hendak kembali mendaftar ke SMK Negeri, pendaftarannya sudah tutup. Selesai.
Karena tidak ada pilihan lain, ibarat menu warung tinggal satu, akhirnya saya masuk SMA Katolik. Yayasan Bintang Timur namanya. Beberapa minggu bersekolah di sana, saya langsung sadar satu hal: sekolah itu sangat disiplin. Bukan hanya dalam aturan, tetapi juga dalam urusan biaya. Disiplin total.
Saat itu masih menggunakan sistem Catur Wulan, rapor dibagikan tiga kali setahun. Saya masuk kelas X-A dengan wali kelas Pak MP. Pembawaannya tenang, wajahnya bersahabat, tetapi auranya cukup membuat murid berpikir dua kali sebelum bertindak ceroboh.
Masalah bermula ketika kami mendapat giliran piket pulang sekolah. Empat siswa laki-laki dan empat siswa perempuan. Karena masih murid baru, rasanya dunia hanya soal main dan teman baru. Prinsip hidup saat itu pun sederhana: malu pulang terlambat. Maka kami para laki-laki mengambil keputusan cepat dan salah: pulang duluan.

Tidak perlu waktu lama, Pak MP mengetahuinya. Dan di situlah cerita panjang ini dimulai. Sebagai konsekuensi, saya dan tiga teman lainnya tidak diperbolehkan masuk kelas saat jam Matematika. Berbeda dengan murid sekarang yang jika bermasalah langsung lapor orangtua, pada masa itu melapor justru menambah masalah baru.
“Kalau saya masuk kelas, kalian jangan ada. Kalau kalian tetap ada, saya yang keluar,” ancam Pak MP.
Demi menghindari masalah berlapis, kami memilih keluar. Tidak ada syarat, tidak ada tugas tambahan. Memungut sampah, hormat bendera, atau denda, semua itu tidak pernah terucap. Kami bingung, komunikasi pun tertutup. Bertemu beliau di sekolah saja rasanya ingin menghindar.
Mengadu ke guru BK pun tak membuahkan hasil (entah ikut bekerja sama atau sudah pasrah). Sementara itu, kepala sekolah jarang di tempat karena beliau seorang Frater dengan jam terbang tinggi. Akibatnya, selama tiga bulan kami tidak belajar Matematika. Lucunya, tiga teman saya santai saja, bahkan menikmati. Saya sendiri justru bingung dan mulai cemas sendirian.
Kesempatan datang saat kepala sekolah hadir. Kami melapor, digembleng, lalu diberi surat rekomendasi untuk Pak MP. Surat itu kami serahkan, disertai sanksi tambahan, dan akhirnya kami boleh kembali mengikuti pelajaran Matematika tepat dua minggu sebelum ujian Cawu. Hasil Cawu satu pun bisa ditebak, nilai merah hampir setengah mata pelajaran, dan Matematika saya berakhir manis di angka 4.
Memasuki Cawu dua, saya memasang niat. Ego Pak MP harus dikalahkan dengan cara terhormat. Saya mulai serius belajar Matematika. Tugas selalu saya kerjakan. Perlahan, Matematika justru menjadi pelajaran favorit hingga akhirnya saya memilih jurusan IPA.
Tanpa saya duga, saya terpilih menjadi salah satu perwakilan kelas untuk lomba Matematika di sekolah. Bahkan hingga ujian akhir kelulusan SMA, teman-teman sering menjadikan saya tempat bertanya dan berdiskusi soal jawaban. Ironisnya, saat penerimaan ijazah, nilai Matematika saya justru sangat kecil, hampir tidak lulus, karena saat itu pertama kali Ujian Nasional (UN) diadakan.
Saya sangat bersyukur pernah mengenal Pak MP. Saya kagum pada caranya mendisiplinkan murid tanpa kehilangan wibawa. Dekat, tetapi tetap ada batas; tegas, namun mendidik. Dia tidak pernah buat konten karena pada saat itu belum ada media sosial. Kini, saat saya sendiri menjadi guru, saya baru benar-benar memahami beliau. Bahkan beberapa kali saya pernah menerapkan pendekatan serupa kepada murid-murid saya, dan hasilnya terasa, mereka belajar memahami arti tanggung jawab.




Leave a Reply