Apa yang Dianggap Istimewa, Suatu Hari Akan Terasa Biasa Saja

Dok. Wikihow

Memiliki televisi di tahun 80an adalah simbol kemewahan dan status sosial.  Sebab tidak setiap orang mampu beli barang itu. Bentuknya kotak besar, terbuat dari kayu jati yang mengkilap, dan layarnya cuma seukuran buku tulis. Masih belum berwarna, hitam putih.

Tapi bagi kami anak-anak dan orang dewasa di kampung, televisi ibarat jendela ajaib yang menampakkan dunia. Suara ‘bip’ dan garis-garis warna yang muncul saat TV dinyalakan saja sudah membuat kami berdecak kagum. Antena TV harus sering diputar agar gambar tidak berbayang dan suaranya jernih.

Ada beberapa acara yang menjadi ritual wajib dan sangat dinantikan. Salah satunya adalah film laga atau cerita silat pada hari Minggu malam. Suara denting musik pembuka acaranya saja sudah bisa membuat seluruh kampung seketika diam.

Namun, yang paling legendaris adalah saat siaran Si Unyil atau film-film India. Meskipun sederhana orang bisa tertawa bersama melihat kelucuan Unyil dan kawan-kawannya. Mereka hanyut, terbawa perasaan saat melihat drama percintaan dan tarian dalam film India.

Waktu bergulir cepat. Puluhan tahun telah berlalu. Televisi yang dulu berdiri gagah di sudut ruang tamu itu sudah tiada. Digantikan oleh layar datar tipis yang gambarnya tajam berwarna, ukurannya besar, dan harganya kini sudah sangat terjangkau. Hampir setiap rumah memilikinya bahkan lebih dari satu.

Orang-orang tidak lagi berkumpul di teras. Sekarang, setiap orang bisa menonton di balik pintu yang tertutup. Remote control di tangan, saluran bisa diganti sesuka hati, dan tidak perlu lagi repot memutar antena.

Di sudut gudang, mungkin masih tersisa serpihan kayu bekas casing TV lama itu. Sebuah saksi bisu bahwa kemewahan suatu saat hanya akan menjadi kenangan, dan apa yang dianggap istimewa, suatu hari nanti akan terasa biasa saja.