
1.601 tulisan—sebenarnya 1.800an andai 200 tulisan tidak hilang ditelan internet, 566 penulis, dan rata-rata dibaca 200an orang per harinya. Begitulah angka (baca: fakta) Nyalanya selama sembilan tahun ada di tengah-tengah dunia ini.
Namun, buat saya, selaku Tukang Kebun Nyalanya, pencapaian terbesar ruang ini bukan angka-angka itu. Bukan pula seberapa besar Nyalanya mempengaruhi banyak sekolah sehingga membuat laman serupa.
Pencapaian terbesar selama sembilan tahun ini adalah ketika seseorang di yang merasa bukan siapa-siapa di suatu tempat terpencil—dan terkucil— menyadari bahwa ia dan pikirannya memiliki tempat di dunia setelah membaca Nyalanya. Sebuah kesadaran kecil, tetapi dari sanalah kehidupan sering bermula.
Sembilan tahun bukan usia yang panjang bagi sebuah kota. Tetapi, bagi saya, untuk sebuah web kecil yang lahir di tengah perkebunan, angka itu adalah umur yang panjang. Menempuhi riwayat penuh luka, duka, dan suka di tengah suara yang terus mengeja masa depan.
Nyalanya tidak pernah bercita-cita menjadi megah. Ia hanya ingin menjadi kompas kecil. Penuntun untuk kembali menemukan sesuatu yang hilang saat tergopoh mengejar waktu di dunia yang tak pernah menerima semua suka. Menjadi portal yang sedikit terbuka, agar mereka ingat asal dan usul: kesederhanaan, ketika semua bermula.
Ada penulis anak-anak yang menaruh mamaknya yang ngomel setiap pulang sore usai berkebun. Seorang murid kelas empat menulis cita-citanya menjadi dokter setelah melihat orang-orang di sekitar yang tidak bisa berobat karena miskin. Guru-guru menyimpan catatan masa muda dan tentang murid yang melakukan hal-hal konyol seperti berak di celana. Karyawan di Mathagia menceritakan huru-hara dengan pelanggan dan banyak lagi kisah-kisah lain yang memberi tahu bahwa selalu ada kehidupan sesungguhnya di luar layar-layar kaca.
Sembilan tahun lalu, mungkin tak ada yang sungguh percaya bahwa tulisan-tulisan sederhana itu akan bertahan sejauh ini. Kadang halaman lambat, kadang tidak terbuka sama sekali. Tetapi warga Tenera tetap menulis. Dengan seragam yang mulai pudar warnanya, dengan pensil yang harus mengantri diraut.
Dan guru-guru. Ah, mereka di Tenera selalu memiliki kesabaran yang jarang dimiliki dunia modern. Mereka tahu, mungkin tak semua murid akan menjadi sarjana. Tetapi mereka ingin setiap anak setidaknya pernah merasa bahwa pikirannya berharga, bahwa ceritanya layak dibaca.
Web ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar halaman digital. Ia menjelma seperti api kecil di tengah gelap. Tempat kenangan disimpan agar tidak hilang ditelan waktu. Anak-anak tumbuh, pergi merantau, lalu dunia lupa bahwa pernah ada sekolah di tengah perkebunan Bengkulu Utara yang mengajari murid-muridnya menulis dengan hati.
Kini, pada ulang tahun yang ke-9, Nyalanya mungkin masih sederhana. Tidak ramai. Tidak viral. Tidak penuh pujian. Tetapi di dalamnya ada sesuatu yang lebih penting: kejujuran. Dan barangkali memang hanya itu yang dibutuhkan. Selama masih ada guru yang percaya pada pendidikan, selama masih ada anak yang menulis mimpinya dengan mata berbinar, Nyalanya ini akan terus menyala, seperti semprong yang bertahan di tengah malam panjang perkebunan.




Leave a Reply