
Namaku Raka. Di usia yang baru menginjak belasan tahun, aku sudah hapal aroma tenda lembap, tekstur pasir pantai di berbagai pulau, hingga dinginnya kabut gunung. Bukan karena aku anak pramuka yang ambisius, tapi karena aku terjebak di keluarga yang mengidap penyakit kecanduan berpetualang.
Pertama, ayah, pria paruh baya yang tak bisa diam saat akhir pekan. Baginya bekerja dari Senin sampai Jumat adalah alasan mutlak untuk membakar kalori di alam liar saat Sabtu dan Minggu. Lalu, Ibu. Sosok manajer perjalanan yang santai tapi perfeksionis. Ibu adalah orang yang memastikan logistik aman sekaligus yang paling heboh kalau melihat pemandangan. Terakhir, adikku Rania, si kecil yang selalu siap merengek kalau jalur menantang.
Rumah kami lebih sering mirip gudang perlengkapan ekspedisi daripada sekadar tempat tinggal. Alih-alih merencanakan rute menuju kafe kekinian, meja makan kami biasanya dipenuhi dengan peta dan kompas. Kami percaya petualangan sejati selalu dimulai di tempat yang sinyal ponselnya pun enggan mampir.
Malam itu, suasana di ruang tengah terasa lebih sibuk dari biasanya. Ayah sedang duduk bersila di lantai, dikelilingi berbagai jenis lensa kamera yang dibersihkan dengan teliti menggunakan kain mikrofiber.
“Raka, kemari sebentar!” panggil Ayah. Aku mendekat, melihat sebuah titik merah yang dilingkari menggunakan spidol di atas peta Bengkulu Tengah yang terbentang lebar.
“Besok kita akan masuk ke jantung hutan lindung Bukit Daun. Rafflesia Arnoldi di sana dikabarkan mekar sempurna di hari ke-4. Kita tidak boleh terlambat satu jam pun karena momen puncaknya sangat singkat” ucap Ayah dengan mata yang berbinar-binar penuh semangat.
Di sudut lain, Ibu si menteri logistik keluarga sibuk memasukkan berbagai perbekalan ke dalam ransel besar berwarna jingga. Ada roti gandum, botol air mineral ekstra hingga kotak P3K yang isinya lengkap. Malam itu, meski suara hujan mulai rintik-rintik di luar jendela, semangat kami untuk menemui sang puspa langka tak mendingin.
Keesokan paginya, tepat jam lima subuh mobil kami sudah membelah kabut tebal yang menyelimuti jalan liku sembilan. Namun, alam sebenarnya ingin menguji tekad kami. Begitu kami tiba di titik pendakian, langit yang tadinya abu-abu pekat mendadak tumpah. Hujan deras mengguyur bumi Bengkulu, mengubah tanah hutan yang padat menjadi lumpur yang sangat licin.

“Waduh, jalannya benar-benar menantang, Pak!” ujar Pak Buyung yang menunggu kami di pinggir hutan. Ia melihat ke arah Rania yang tampak ragu menatap genangan air. Bagaimana? Mau lanjut atau tunggu di mobil saja?” tanyanya memastikan.
Ayah menatap kami satu persatu untuk mencari kepastian. Aku menjawab dengan anggukan mantap, begitu juga ibu yang sudah siap dengan jas hujan plastik. Rania, meski tangannya sedikit gemetar, akhirnya mengikat tali sepatunya lebih kencang dari biasanya.
“Aku mau ikut! Aku mau lihat bunga raksasa itu dengan mataku sendiri!” serunya dengan nada berani yang dibuat-buat.
Hujan sudah mengguyur sejak pagi, namun semangat Raka, Rania, Ayah dan Ibu tidak surut. Dengan mengenakan jas hujan berwarna-warni, Pak Buyung sang pemandu berjalan di depan dengan tongkat kayu. Sesekali berhenti memastikan anggota keluarga dalam kondisi aman.
“Hati-hati tanah mulai gembur!” ujar Pak Buyung mengingatkan.
Di tengah perjalanan yang melelahkan, Rania berjalan berdekatan dengan Pak Buyung. Rasa penasaran mulai muncul setelah melihat Pak Buyung berkali-kali memeriksa area di sekitar pepohonan. “Pak,” panggil Rania. “Kenapa sih Bapak harus menjaga bunga ini? Sampai ada aturan yang mencegah orang mendekat sembarangan?”
Pak Buyung menoleh sejenak ke arah Rania. “Ada warga yang ingin memiliki bunga ini secara pribadi, Rania.” Jelasnya serius. “Ada yang nekat memanen kuncupnya untuk dijadikan obat tradisional, padahal, satu kuncup bunga butuh sembilan bulan buat mekar, tapi mekarnya cuma sampai 5 atau 7 hari saja. Kalau dipetik sembarangan, perjuangan alam selama sembilan bulan itu hilang sia-sia.”
Rania tertegun, langkahnya melambat karena kaget. “Wah, begitu ya, pak, lama sekali ya mekarnya.. apa yang bisa kita lakukan supaya Rafflesia tetap tumbuh di hutan kita, pak?”
Pak Buyung tersenyum tipis. “Rafflesia nggak bisa hidup tanpa hutan dan tanpa inangnya, Rania. Jadi warga sekitar harus di edukasi supaya nggak menebang pohon sembarangan. Tanpa pohon-pohon besar ini, Rafflesia tidak punya tempat untuk hidup.”
Ayah yang berada tepat di belakang mereka, sambil merangkul pundak ibu agar tidak terpeleset, ikut menimpali pembicaraan itu. “Benar kata Pak Buyung, kita masih harus banyak belajar menjaga bumi. Ada banyak hal yang belum kita ketahui.” Ucap Ayah.
“Selain itu, saat melihat Rafflesia yang sedang mekar, ikuti aturannya, nggak boleh injak area akar, nggak buang sampah di sekitarnya, nggak boleh dipetik, dan nggak pakai flash jarak dekat!” tegas Pak Buyung.
Rania melongo takjub. “Dari seratus kuncup, hanya 10-20% yang berhasil mekar sempurna, sisanya gagal. Entah karena gangguan manusia, babi hutan, bahkan jamur. Setiap satu bunga yang kamu lihat mekar, itu adalah keajaiban,” lanjut Pak Buyung meninggalkan sunyi.
Setelah hampir satu jam berjalan merayap di antara semak belukar, Pak Buyung tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi memberi isyarat agar kami berhenti bergerak dan tidak mengeluarkan suara. “Coba hirup udaranya pelan-pelan” bisik Pak Buyung. Aku menghirup napas dalam-dalam.

Muncul aroma aneh, tajam, dan sangat menyengat seperti bau daging yang mulai membusuk di bawah terik matahari. Bau itu sangat kuat hingga membuat Rania terpaksa menutup hidungnya rapat-rapat menggunakan syal. Pak Buyung perlahan menyikap dedaunan hijau yang rimbun dengan parangnya dan disanalah ia berada, bersembunyi dengan megah.
Sosok raksasa merah jingga menyembul dari balik akar pohon Tetrastigma yang melilit Rafflesia Arnoldi. Diameter yang sangat luar biasa, dengan lima kelopak tebal berwarna merah hati, dihias bintik-bintik putih menonjol, terdapat lubang besar menyerupai sumur dalam yang mengeluarkan uap aroma khas untuk mengundang serangga.
Saat melihat kemegahan itu, Ayah melongo, mulut terbuka lebar seolah tak percaya bahwa bunga raksasa yang selama ini dilihat dari foto, kini nyata di depan mata.
“Luar biasa lebih indah dari yang ada di foto.” Gumam Ayah.
Ia segera memasang tripod dengan tangan gemetar karena rasa kagum yang luar biasa. Kami semua terpesona oleh kecantikan yang mengerikan sekaligus agung ini. Semua rasa lelah, baju basah, serta sepatu yang penuh lumpur seketika terasa sepadan dengan pemandangan di depan kami.
Rania yang tadinya takut dan ingin pulang kini justru menjadi orang yang paling penasaran. Dengan pengawasan ketat dari Pak Buyung, ia mendekat hingga jarak satu meter dari kelopak bunga. “Kak Raka! Lihat! Ada lalat besar yang masuk!” tunjuknya dengan mata berbinar-binar penuh kegembiraan.
Pak Buyung tersenyum lalu menjelaskan kepada kami bahwa itulah cara bunga unik ini bertahan hidup, ia menarik serangga untuk membantu penyerbukan melalui aromanya yang unik karena ia tidak memiliki daun untuk berfotosintesis. Ibu lalu mengeluarkan roti dari tas dan kami menikmatinya bersama sambil terus memandangi sang puspa. Kami menyadari bahwa betapa langkanya momen ini.
Bunga ini butuh waktu berbulan-bulan, bahkan hampir setahun untuk tumbuh dari kuncup sekecil bola tenis hingga menjadi raksasa. Namun ia hanya diberikan waktu satu minggu untuk memamerkan kecantikannya sebelum akhirnya membusuk dan menghilang. Kami merasa sangat beruntung bisa hadir tepat pada waktu emas kemekarannya.
Perjalanan pulang menuju mobil terasa jauh lebih ringan meskipun medannya tetap licin dan menantang. Kami berjalan dengan hati yang sangat puas dan penuh kebanggaan. Sesampainya di pinggir hutan, kami semua saling menatap dan menertawakan penampilan masing-masing yang penuh noda tanah merah dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kami benar-benar terlihat seperti pasukan yang baru kembali dari medan perang.







Leave a Reply