Aku, Mathagia, dan Tiga Pelanggan Setia

Dok. Wikihow

Namanya Mathagia. Tokonya tidak terlalu besar tapi cukup untuk menyambung hidup kami. Temboknya berwarna putih. Lampunya paling terang di area itu. Kerjaku dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore. Kadang shif sore dari jam tiga sampai sebelas. Tugasku? Kasir, ngerapihin rak, dan kadang jadi tukang dengerin curhat pembeli.

Setiap pagi aku buka rolling door-nya. Bunyinya “kreeet” panjang. Itu tanda hari mulai. Aroma kopi sachet dan karbol pel lantai campur jadi satu . Aku hapal susunan barangnya. Rak mie di kiri, susu anak di kanan, dan laci kasir yang suka macet kalau hari lagi apes.

Pembeli tetapku ada tiga. Pertama, bapak-bapak pabrik. Belinya rokok dan kopi tapi ngobrolnya bisa 20 menit. Dua, Bu El. Tiap pagi tanya pulsa. Dia mau update cerita di Facebook. Tiga, anak sekolah yang ngumpulin receh buat beli ciki.

Toko itu bukan cuma tempat aku cari uang. Di Mathagia aku belajar sabar, umumnya ketika barang kosong. Aku belajar kerja cepat pas antrian panjang. Belajar jujur pas kembalian kelebihan.

Malamnya, sebelum tutup, aku duduk di depan toko. Denger motor lewat, lihat lampu gang nyala satu-satu. Capek, iya. Tapi ada rasa sedang di “rumah” juga. Soalnya di Toko Mathagia ini, aku bukan cuma “mbak kasir”. Aku bagian dari cerita kecil orang-orang yang mampir.