Anak Selamanya Menjadi Anak Kecil, pun Orangtua

Dok.Wikihow

Halo teman-teman, namaku Salsa. Tahun ini saya akan berusia 15 tahun. Sudah remaja. Bukan anak kecil lagi. Akan menjalani fase menuju dewasa yang sepertinya bakal seru sekali. Perjalanan mendebarkan yang ketika tua nanti dikenang dengan senang.

Namun, kenapa ya, orangtua terus menganggap saya ini masih kecil? Sebenarnya wajar sih. Saya paham sepenuhnya bahwa sampai kapan pun ayah dan bunda akan terus menganggap putri kecil mereka ini anak kecil. 

Padahal seiring bertambahnya usia dan tinggi badan saya sudah bisa membedakan mana baik dan mana yang buruk. Namun perasaan sebagian besar orangtua ke anak tidak akan berubah. Begitulah jalannya kehidupan. 

Keberanian menjadi orangtua berbeda dari keberanian menjadi seorang anak. Namun keduanya punya kesamaan yakni pengalaman pertama. Ayah dan bunda baru pertama kalinya menjadi orangtua. Saya juga baru pertama kalinya jadi anak. Tidak usah dibikin ribet. Sama-sama membahagiakan saja.

Nah, itu menurut saya. 

Namun, bagi Google lain lagi. Menurut banyak opini yang saya temukan dalam mesin pencarian, orangtua punya penilaian sendiri terhadap anak. Penilaian mereka terbagi menjadi banyak aspek, utamanya mental.

Ada rasa takut kehilangan yang terus membesar seiring pertumbuhan anak. Takut pola pikir anaknya berbeda jauh. Takut anaknya terjerumus dalam banyak persoalan. Takut dunia yang kejam ini memamah anak yang mereka cintai. Mana yang harus dipercayai? Tentu saja jawaban itu sudah muncul dalam kepala pembaca sekalian.