Misteri Bika Ambon

Dok.Wikihow

Nara adalah seorang siswa sekolah menengah di Medan. Dia kritis, suka bertanya pada guru, teman, bahkan orangtua tentang hal-hal yang belum ia mengerti. Suatu hari, ibu Nara pulang ke rumah membawa sekotak kue kuning.

Nara mengamati bentuknya. Cukup lucu, katanya dalam hati. Kue berwarna kuning itu kenyal dan berongga, berpola sarang tawon dalam tekstur bagian dalamnya. Punya aroma khas daun jeruk dan pandan.

“Ibu, kue apa ini?”
“Ini Bika Ambon. Kamu pasti suka,” jawab ibu semringah.

Nara mengambil sepotong lalu menggigitnya. Bagian dalamnya kenyal dan manis. Sedangkan permukaan Bika Ambon yang berwarna agak kecokelatan itu renyah. Baru pertama kalinya Nara melihat kue macam itu. Aroma pandan memperluas sensasi dalam mulutnya. Belum tuntas sensasi itu, Nara sudah menginjak bumi lalu kembali menyergap ibunya dengan pertanyaan.

“Kenapa pula namanya Bika Ambon? Padahal kan ini kue dari Medan sedangkan Ambon itu di Bengkulu.”

Ibunya menjawab sambil memindahkan potongan kue ke piring besar yang biasa mereka pakai untuk lauk tempe dan tahu. Ibu bilang kemungkinannya banyak. Asal usulnya bisa saja berhubungan dengan Maluku. Namun, yang dipercayai kebanyakan orang di Medan, Bima Ambon adalah kue akulturasi.

“Ada yang bilang kue ini berasal dari Tionghoa lalu karena sesuatu hal bahan-bahan adonannya dimodifikasi menjadi lebih lokal,” sambung ibunya. Nara mengambil sepotong lagi lalu minta ibunya melanjutkan cerita.

Yang menarik, lanjut ibunya, nama ‘Bika Ambon’ sendiri populer karena kue itu banyak dijual di simpang jalan Ambon Sei Kera Medan. Saking populernya kue itu, orang-orang menyebutnya Bika Ambon hingga sekarang.

Nara meluncur ke kamarnya. Mengambil ponsel lalu membuka Google dan Chat Gpt. Ia penasaran dan berharap menemukan versi lainnya. Setelah sekian menit berselancar di mesin pencari, Nara mendapatkan dua versi lain. Versi pertama, di luar cerita ibunya, menyebutkan bahwa kata “Ambon” dalam Bika Ambon adalah akronim Amplas Kebon sebagaimana orang Medan suka menyingkat frasa.

Muhar Omtatok, sejarawan sekaligus budayawan asal Medan, dalam jurnal yang ia temukan yang dikutip RRI mengisahkan pada zaman kolonial Belanda, para imigran yang tinggal di Daerah Amplas sisi timur sungai (Amplas Kebon) membuat kue bikang kemudian dijual ke kota selanjutnya menjadi populer karena diminati warga Belanda dan Tionghoa kala itu. Versi kedua terakhir mengaitkan kata “Ambon” adalah kosakata yang berarti “lembut”. Namun, istilah itu sudah jarang digunakan.

Nara cukup puas dengan banyak versi itu. Mana yang benar belum penting saat itu karena sebentar lagi anggota keluarga lainnya pulang. Sehingga, ia harus mengamankan dua sampai tiga potong Bika Ambon. Sebab dua potong Bika Ambon belum cukup memuaskan baginya.