
Berbicara tentang zaman dulu, rasanya seperti membuka kotak kenangan yang tak pernah benar-benar tertutup. Selalu saja ada cerita yang ingin keluar, berdesakan satu sama lain. Terutama tentang hal-hal yang dulu begitu diinginkan, tetapi tak pernah sempat dimiliki. Bukan karena tidak berusaha, melainkan karena keadaan.
Tema menulis bulan ini seolah mengajak saya kembali ke masa itu, ketika sebuah benda kecil bisa menjadi mimpi besar. Barang yang dulu terasa mewah, sulit dijangkau, bahkan mungkin kini sudah hilang, tergantikan oleh teknologi yang lebih canggih dan serba praktis.
Saya tumbuh di sebuah desa di pinggiran Danau Toba, tepat di Jalan Lintas Sumatra. Desa kami tidak sepenuhnya tertinggal. Tahun 1990, saat usia saya enam tahun, listrik sudah masuk. Beberapa rumah, termasuk rumah kami, sudah memiliki televisi kotak, kiriman keluarga dari kota. Televisi itu bukan sekadar hiburan, tetapi juga jendela kecil yang memperlihatkan dunia yang jauh dari tempat kami.
Menjelang tahun 2000, di desa saya hanya ada satu rumah yang memiliki telepon. Rumah itu jarang dihuni pemiliknya karena mereka tinggal di kota. Telepon itu dijaga keluarga mereka yang ada di desa dan hanya digunakan untuk menyampaikan kabar-kabar penting. Itu pun biasanya setelah jam sembilan malam.
Sekadar menanyakan kabar? Itu kemewahan yang terlalu mahal. Jadi kalau sudah telepon, pembicaraannya langsung serius. Tidak ada basa-basi: lagi ngapain?, karena itu sama saja seperti membuang pulsa. Namun, dari semua kenangan itu, ada satu benda yang begitu lekat dalam ingatan saya: walkman.
Alat pemutar kaset kecil yang bisa dimasukkan ke saku atau dijepit di pinggang. Dari alat itu, musik mengalir langsung ke telinga melalui headset (henset, begitu kami menyebutnya dulu). Baterainya bukan isi ulang seperti sekarang. Kalau habis, ya ganti atau kami jemur saja di bawah matahari, berharap keajaiban datang. Tentu saja tidak pernah berhasil, tapi setidaknya kami merasa sudah berusaha.
Saya sangat menginginkan walkman. Karena musik bagi saya bukan sekadar hiburan, tetapi teman setia. Lagu-lagu dari Stinky dan Padi sering saya dengar meski harus meminjam atau mendengarnya dari kejauhan. Memiliki walkman sendiri adalah impian yang terasa begitu dekat, tetapi apa daya tangan tak sampai.
Jujur saja, saya baru pertama kali menggunakan headset saat kelas 11 SMA, milik seorang teman. Saya masih ingat betapa terkejutnya saya saat suara musik langsung memenuhi telinga. Rasanya seperti penyanyinya sedang konser khusus di dalam kepala saya. Saya bahkan tanpa sadar berbicara keras.
Pernah suatu waktu saya memiliki radio kecil seukuran kotak rokok. Rasanya seperti punya walkman meski tidak sepenuhnya sama. Saya sempat merasa sudah paling modern saat itu. Sayangnya, baterainya kecil dan sulit ditemukan. Begitu habis, radio itu berubah dari benda berharga menjadi pajangan.
Kini, semua telah berubah. Walkman, kaset, radio kecil, bahkan tv tabung ‘melebur’ dalam genggaman, menjadi ponsel pintar. Musik bisa didengar kapan dan di mana saja, tanpa batas. Bahkan, kalau mau, kita bisa berpindah lagu lebih cepat daripada mengganti kaset yang dulu sering kusut dan harus diputar pakai pena.
Namun, anehnya, di tengah kemudahan itu, ada sesuatu yang terasa hilang. Mungkin bukan bendanya yang kita rindukan, melainkan suasananya. Saat-saat duduk bersama teman di bawah pohon, memetik gitar seadanya, menyanyikan lagu dengan suara yang kadang fals tapi penuh tawa. Tidak ada siaran langsung, tidak ada penonton live. Hanya kami, waktu, dan kebahagiaan yang sederhana.
Kini, ketika semua bisa didapatkan dengan mudah, justru kenangan menjadi barang paling berharga yang tak bisa dibeli, tak bisa digantikan. Seperti walkman yang tak pernah sempat saya miliki, tetapi menjadi salah satu kisah paling manis dalam hidup saya, karena ternyata yang paling indah bukanlah saat kita memiliki, melainkan saat kehilangan.




Leave a Reply