Dilema Antara Tenera dan Jaranan

Dok.Kemendikbud

Tahun ini aku punya keluarga baru. Selain Tenera aku kini jadi bagian dari Jaranan Legowo Crew. Dalam memperingati HUT RI ke-74, aku sangat dibutuhkan rombongan karena menjadi pengurus tetapi aku juga punya tanggung jawab di tengah keluarga Tenera. Aku harus membagi waktu untuk dua keluargaku itu.

Di Tenera aku ditunjuk sebagai sekretaris. Selain itu aku juga salah satu pemeran dalam pertunjukkan drama, anggota paduan suara yang akan tampil di upacara bendera HUT RI ke-74, dan panitia lomba-lomba 17an. Untuk keluarga Legowo Crew sendiri aku ditunjuk sebagai Koordinator arak keliling dan festival di Desa Sukamakmur.

Jika dituruti semua pasti ada salah satu keluarga yang harus dikorbankan namun aku mau semua sama-sama jalan. Aku meminta izin keluarga Tenera mengikuti upacara dan drama saja, tidak dapat membatu dalam agenda perlombaan selepas upacara. Aku juga mita izin ke Legowo Crew tidak ikut arak keliling. Pertimbanganku masih banyak pengganti di perlombaan karena guru Tenera banyak. Di sisi lain aku rela melepas arak keliling karena festival yang jauh lebih penting. Memang harus ada yang dikorbankan supaya semua bisa sama-sama jalan.

Aku merasa inilah bentuk soladaritasku untuk keluargaku

Tahun lalu aku berperan sebagai pahlawan yang disiksa habis-habisan oleh Pak Wiwin dan Pak Teguh yang memerankan penjajah dalam drama. Hati kecil tidak ikhlas karena badan dianiaya. Wah mereka sungguh kejam soal urusan menyiksa. Tapi semua terbalas di tahun ini karena aku mendapat peran penjajah. Pahlawan tahun ini Pak Teguh, Pak Edi, dan Pak Feri. Akhirnya aku bisa balas dendam. Seneng hati ini bisa menyiksa mereka dengan sepatu boot yang aku pakai hahaha. Tapi ini hanya akting drama, bukan beneran

Cerita di Legowo Crew saat festival engak kalah seru. Di akhir pertunjukkan, ada gerakkan membawa Barongan Devil salto di atas meja. Harus kuat mental dan butuh skill mumpuni melakukan gerakan ini karena cukup berbahaya. Risikonya besar dan fatal. Aku adalah jagoannya barongan di atas meja hehehe. Salto berapa kalipun bakal aku turuti.

Tapi, tidak aku sangka ada salto di bagian terakhir tari itu jadi malapetaka. Saat aku mendarat di salto kedua di atas meja, aku mendengar bunyi seperti kayu patah. Keras sekali. Rombongan langsung memeriksa meja dan papan yang ternyata tidak ada yang patah. Setelah turun meja aku duduk menunggu giliran teman yang salto.

Angin sangat semilir. Pahaku dingin padahal badan gerah. Eh, saat aku lihat ternyata celanaku robek besar. Suara yang keras saat salto tadi ternyata celanaku yang robek besar. Lebarnya dari atas lutut kiri sampai ke ikat pinggang belakang. Lebar sekali pokoknya. Syukur aku memakai celana dobel, kalau tidak tak terbayang bagaimana malunya.

Muis Indrawan
Guru SD Tenera



Genre:

Tema: