Duku Berubah Duka

Dok. Wikihow

Melanjutkan cerita ramalan awal tahun ini yang terkesan sangat menyenangkan tetapi ternyata menyimpan sejuta kenangan yang tak terlupakan.

Musim buah duku telah usai. Aroma buah pun telah hilang dan kini hanya menyisakan kenangan yang tak terlupakan. Ya, tentu saja musim buah terasa sangat menyenangkan terutama untuk penikmat buah-buahan. Namun, lain halnya dengan saya. Musim buah duku yang awalnya saya ramalkan akan menyenangkan ternyata meninggalkan duka mendalam.

Ya, tentu mendalam. Dari duku berubah menjadi duka.

Duka mendalam untuk keluarga terutama menteri keuangan di rumah saya (istri tercinta) yang saat ini justru harus kehilangan sesosok lelaki yang menjadi cinta pertama dalam perjalanan hidupnya.

Mungkin berkat duku, kami merasa sangat senang. Namun setelah duku justru datang kabar duka. Ayah mertua tercinta yang sangat kami sayangi meninggalkan kami untuk selamanya. Tak terasa waktu itu tiba di saat kami sedang tak berdaya. 

Di momen hari raya semua orang merayakan kemenangan tetapi kami justru harus menerima kabar itu. Vonis dokter, Ayah mengalami penggumpalan darah di kepala akibat adanya benturan dengan benda tumpul dan tidak terselamatkan. 

Dan di sini ada alasan kenapa saya bercerita dari duku berubah menjadi duka. Saat kami berkumpul, beberapa keluarga terdekat menceritakan kejadian sebelumnya. Ternyata ayah pernah mengalami kecelakaan motor saat mengantarkan peralatan panen duku dan mengalami benturan pada bagian kepala.

Peristiwa itu menjadi akar dari kabar duka yang kami terima. Untuk saat ini kami semua harus menerima meskipun itu sangat pahit. Dan kami semua harus berdamai dengan itu semua.