Mengukir Memori Indah

Dok.Wikihow

Alarm berbunyi. Sayup-sayup aku dengar azan subuh berkumandang dari masjid yang berada tidak jauh dari rumahku. Biasanya aku akan bangun, mengambil air wudu, salat subuh, kemudian melanjutkan mimpi yang terpotong. Namun, kala itu rutinitasku berbeda. Hari itu adalah hari pertamaku bekerja sebagai guru. Aku bergegas bangun dari tempat tidur dan menyambar handukku. 

Aku mengguyur air yang terasa dingin pagi itu. Tapi justru air yang dingin itu membuat mataku menjadi terbelalak, menghilangkan rasa kantuk yang masih tersisa. 

“Bekalnya sudah siap Teh,” kata mamaku yang ikut repot pagi itu. Teteh adalah sapaan hangat dari seluruh orang rumah untukku.

Pukul 06.10 WIB motorku sudah terpakir dengan mesin yang menyala. Artinya, bapak sudah menyiapkan motor yang akan aku gunakan hari itu. Kemudian aku segera berpamitan dengan orangtua untuk berangkat mencari rezeki di hari pertama. 

“Jangan lupa bismillah ya Teh,” pesan mama saat aku mencium tangannya. Yap, kalimat sederhana tapi makna dan harapannya yang luas. Setiap  melakukan sesuatu mama pasti akan mengingatkan satu hal yang tidak akan pernah tinggal, yaitu bismillah. 

Dalam perjalanan rasanya banyak pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk. Bisa tidak ya? Orang-orangnya enak tidak ya? Bagaimana kalau mereka tidak menerimaku?

Setelah satu jam perjalanan panjang akhirnya aku sampai di sekolah Tenera. Pagi itu banyak sekali sapaan dan senyuman hangat yang diberikan anak-anak lucu dan menggemaskan. Mereka ramah sekali meskipun belum mengenalku. Sikap mereka seakan meruntuhkan kecemasan-kecemasan yang berkecamuk dalam perjalanan. 

Kemudian aku menyusuri koridor sekolah sampai menemukan ruang guru. Aku menyapa dan memperkenalkan diri sebagai guru baru yang akan menjalani masa training. Bapak ibu guru juga menyambutku dengan hangat kemudian mengajakku upacara bendera. Kebetulan hari itu hari Senin dan kegiatan rutinitasnya adalah upacara bendera.

Setelah upacara bendera selesai, lonceng jam pertama berbunyi. Aku berjalan menuju kelas yang sudah ditunjukkan. Saat masuk kelas aku masih ingat betul sambutan hangat dan semangat anak-anak yang ternyata telah menunggu kedatanganku. Saat melihat mereka rasanya ingin mencubit pipi mereka yang menggemaskan.

Suaranya yang masih terdengar lucu. Pertanyaan yang kadang tidak pernah terpikirkan. Ada banyak cerita yang terjadi di kelas setiap harinya. Semua masih terekam jelas dalam ingatan. Momen yang paling membahagiakan adalah ketika mereka menunjukkan perubahan saat mereka belajar. Dari yang tidak bisa menjadi bisa. Sikap-sikap yang perlahan berubah menjadi positif setiap harinya membuatku merasa sedikit berhasil. 

Sekarang mereka sudah berada di tingkat tertinggi pada jenjang SD. Mereka sudah tumbuh dan  berkembang bak tanaman. Tanaman yang tetap harus dijaga, disiram, dan dipupuk dengan baik agar kuat, indah, dan bermanfaat. 

Untuk anak-anak pertamaku di SD Tenera yang mungkin akan membaca tulisan ini, terima kasih sudah mengajarkan banyak hal. Teruslah menjadi pribadi yang baik di mana pun dan kapan pun. Bahagia dan bangga sekali pernah mengukir cerita bersama kalian. Kalian akan selalu menjadi memori indah yang tak akan pernah terlupakan.