Kata-kata Ajaib yang Menyemangati dan Memotivasi

Dok. Wikihow

Waktu saya masih SMP ada satu guru yang tidak pernah saya lupakan. Mr. Hadi namanya. Beliau adalah guru bahasa Inggris yang menurut saya paling beda. Guru lain masuk kelas bawa buku, Mr. Hadi masuk kelas bawa semangat dan kadang bawa jokes receh yang bikin kami ngakak walau sebenarnya nggak lucu-lucu amat.

Mr. Hadi itu tinggi. Rambut lurus belah tengah. Selalu bilang: good morning students dengan suara enak seperti penyiar radio. Padahal kami masih setengah sadar karena jam pertama. Tapi anehnya, kalau beliau yang mengajar, rasa ngantuk itu seperti takut sendiri, kabur lewat jendela.

Cara mengajarnya unik. Saat kami salah mengucapkan kata, beliau tidak marah. Beliau malah meresponnya dengan lebay. Misalnya ada yang salah bilang kata “bed” jadi “bad”, beliau langsung pura-pura jatuh ke lantai sambil bilang, “oh no! This is bad, not bed!” Sekelas langsung tertawa. Dari situ kami jadi ingat terus perbedaannya.

Beliau sering bilang, belajar Bahasa Inggris itu seperti belajar naik sepeda. Kalau jatuh itu biasa, yang penting bangun lagi, bukan malah tiduran. Begitu katanya. Perumpamaan yang sederhana, tapi kena sekali di hati saya. Rasanya seperti disiram air segar di siang hari yang panas.

Mr. Hadi juga tidak hanya mengajarkan grammar dan vocabulary. Beliau mengajarkan percaya diri. Dia bilang bahasa itu untuk dipakai, bukan untuk disimpan seperti baju baru di lemari. Jadi kami dipaksa (dengan lembut) untuk berani bicara di depan kelas. Walau bahasa Inggris kami masih campur-campur seperti es campur, beliau tetap bangga.

Puncaknya saya pernah mengikuti Lomba Mata Pelajaran (LMP) Bahasa Inggris dan menjadi peringkat satu di tingkat Kabupaten. Bukan karena pintar melainkan karena saya berani dan semangat berkat bimbingan beliau.

Yang paling saya ingat, beliau pernah berkata bahwa kalau takut salah kita tidak akan pernah bisa. Kalimat itu sederhana, tapi seperti kunci yang membuka pintu pikiran saya. Sejak saat itu, saya mulai berpikir, mungkin suatu hari nanti saya juga ingin jadi guru. Guru yang tidak hanya mengajar, tapi juga menyemangati.

Bagi saya, Mr. Hadi bukan hanya guru Bahasa Inggris. Beliau seperti lilin kecil di ruang kelas, yang menerangi tanpa banyak bicara tentang dirinya sendiri. Karena beliau, saya terinspirasi untuk menjadi seorang guru. Guru yang semoga bisa membuat muridnya tertawa, belajar, dan percaya diri—seperti yang dulu beliau lakukan pada saya.