Mini Seri Jadul Sengsara Membawa Nikmat

Sampul buku “Sengsara Membawa Nikmat” (foto: Gramedia)

Tulisan ini tentang ‘Sengsara Membawa Nikmat’. Sinetron yang tenar di awal tahun 90an. Sinetron sepanjang 20 episode itu ditayangkan di TVRI, menghadirkan aktor dan aktris papan atas Indonesia.

Sandy Nayoan memerankan Midun sang tokoh utama. Desy Ratnasari memerankan Halimah dan pemeran antagonisnya Arief Rivan sebagai Kacak. Sinetron ini diangkat dari Sutan Sati yang mengambil latar tempat dan sosial di sebuah desa di Minangkabau.

Warga desa yang mempunyai televisi di kampung saya masih sedikit ketika sinetron itu ditayangkan. Televisi merupakan barang langka di kampung kami. Untuk menonton sinetron kesayangan ini kami harus berjalan kaki ke rumah paman. Dia punya televisi hitam putih dengan sinyal yang timbul tenggelam.

Kami tidak pernah melewatkan satu episode pun. Hujan, tidak masalah. Kami rela basah-basahan sepanjang jalan. Menonton TV kala itu, terutama ‘Sengsara Membawa Nikmat’ sudah mewah rasanya.

Saya masih ingat betul kehebatan Midun besilek (silat) dengan Kacak, musuh bebuyutan, orang terpandang di desa. Pada episode itu pemenangnya adalah Midun tetapi kemenangan itu berujung hukuman dari kepala adat.

Kehidupan Midun tak mudah. Ia mengalami banyak kesengsaraan. Dari mulai menjadi musuh orang terpandang, dipenjara, ditipu, sehingga berubah halauan menjadi entara Belanda pada pada waktu itu. 

Pada akhirnya setiap peristiwa yang mendatangkan luka akan membawa setiap orang pada rasa suka cita. Pun Midun. Kesabaran dan ketabahannya melahirkan seorang Midun yang berbahagia. Midun mengantarkan pada suatu pemahaman yang mungkin membuat kita mengerti bahwa hanya upaya, doa, dan ketabahanlah yang membuat kesengsaraan sepanjang tahun 2025 ini menjadi nikmat di suatu hari nanti.