
Pada waktu rapat, kepala sekolah mengumumkan bahwa akan diadakan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N). Aku ditugaskan melatih siswa dalam cabang lomba mendongeng. Siswa yang dipilih bernama Nada Rahmatil Maula. Dia juara lomba mendongeng pada kegiatan bulan Bahasa di SDS Tenera.
Ada secercah harapan dalam hatiku untuk meraih kemenangan pada ajang bergengsi ini karena sejak Covid-19 ajang lomba diadakan secara daring dan pemenangnya hanya satu. Juara satu saja. Menurutku lomba daring tidak transparan dalam hal penilaian dan tidak memberikan pembelajaran kepada siswa dalam melatih percaya diri.
Yang pertama aku lakukan adalah membaca Juknis yang dikirim oleh Panitia. Aku mulai mempelajarinya. Tema yang ditentukan adalah “Ekspresi Seni, Inspirasi Negeri”. Untuk penilaian ada nilai plus bagi dongeng yang ditulis sendiri oleh siswa atau guru pendampingnya. Jiwa menulisku pun mulai meronta-ronta. Secara, guru-guru Tenera semuanya penulis hehe, paling tidak kami adalah penulis di Nyalanya.com.
Melalui perenungan selama beberapa jam aku mendapat inspirasi untuk menulis sebuah cerita tentang keseharian kami di perkebunan kelapa sawit yang aku beri judul “Pelangi di Tengah Perkebunan Kelapa Sawit”. Sepulang sekolah aku melatih Nada dengan penuh semangat.
Aku tanamkan pada Nada bahwa ini adalah kesempatan untuk menunjukkan kepada teman-teman dari sekolah lain bahwa kami mampu bersaing dalam prestasi walau Tenera berada di kebun. Dasarnya Nada anak yang cerdas dan bertalenta sehingga dia mampu mengikuti arahanku dengan baik.
Tibalah pelaksanaan lomba. Aku Bersama Bu Nindy ditugaskan untuk mendampingi anak-anak. Ada tujuh anak yang kami bawa. Setelah mendaftarkan Nada aku mengambil nomor undian peserta. Ada sedikit kecewa di hatiku karena Nada urutan ke-12.
Wah Nada pasti lama menunggu dan gelisah. Khawatir moodnya turun dan tampilannya jadi jelek. Begitu pikirku dalam hati. Benar saja ketika peserta lomba satu persatu tampil aku memperhatikan wajah Nada yang tampak gusar
“Kenapa Nada?” tanyaku sambal menggenggam tangannya yang terasa dingin.
“Hem, gak apa-apa Bu,” sahutnya.
“Takut, Grogi?”
“Iya Bu,” jawabnya sambil mengangguk. Aku pegang Pundak Nada sambil menatap matanya.
“Nada harus percaya sama ibu guru. Ikuti saja arahan yang sudah ibu sampaikan. Insya Allah Nada menang.”
Sebenarnya aku juga gelisah dan khawatir tetapi demi perjuangan ini harus kuat biar Nada juga kuat. Aku pikir untuk menambah kekuatan aku butuh jalur langit. Aku ambil HP lalu mengirim pesan singkat kepada beberapa orang. Yang pertama aku chat adalah orangtua Nada. Kedua, kepala Sekolah SD Tenera Pak Anggiat, ketiga chat suamiku. Isi pesannya gini: tolong bantu doa agar Nada bisa tampil bagus, percaya diri dan menang.
Saat giliran Nada maju aku tambah gelisah. Bismillah, aku berdiri mengacungkan jempol untuk memberi penguatan kepada Nada. Suara Nada yang jernih dan lantang terdengar ke seluruh ruangan. “Cerita ini ditulis oleh Nada sendiri bersama ibu guru Nada yaitu Bu Ekawati.” Selesai mengucapkan kalimat tersebut, salah seorang juri spontan mengacungkan jempol. Melihat itu aku sedikit lega.
Pada saat pengumuman lomba, aku, Bu Nindy, dan anak-anak duduk di belakang dengan gelisah. Ketika pengumuman lomba mendongeng, MC membacakan para pemenangnya dari belakang. Mulai dari juara ketiga adalah SD Negeri…juara kedua adalah SD Negeri… dan juara pertama adalah SD S…..Tenera.
Aku, Nada, Bu Nindy, dan anak-anak lain spontan menangis bahagia. Aku pegang tangan Nada untuk naik ke panggung menerima piala. Selesai menerima piala kami foto bersama untuk mengabadikan momen bahagia. Terima kasih untuk semua yang sudah mendoakan Nada.




Leave a Reply