
Matahari begitu silau nan indah di pagi ini. Sinarnya cerah, dengan penuh semangat menyapa dunia seolah berkata, “selamat beraktivitas wahai penduduk bumi”. Aku sambut dengan hangat sambil melihat senyuman ibu-ibu di pinggir jalan yang sudah siap bekerja hari ini.
“Halo, selamat pagi,” sapaku ke seluruh anak anak toko dengan senyuman yang sangat lebar, berharap hari itu tidak ada lagi kejadian-kejadian yang bikin kepala pusing. Ada banyak sifat, sikap, dan tingkah laku seseorang yang aku temui selama aku bekerja di toko ini. Terkadang begitu susah menyesuaikan dan juga memakluminya.
Kadang kita harus sabar banget menghadapi pelanggan yang suka komplain padahal kesalahan belum tentu dari kita. Bukankah bisa menyampaikan sesuatu tanpa harus dengan emosi? Seketika terlintas di benakku, apakah dengan emosi akan menyelesaikan masalah? Tentu tidak ya kan. Tapi kita juga tidak bisa berharap agar semua orang bisa bersikap dengan baik. Ya kan jadi curhat deh hehehe.
Lamunan dikejutkan rekan kerjaku. Melihat dia begitu manis dan harmonis bersama suaminya terkadang aku sempat berpikir untuk menikah cepat agar bisa seperti yang lain. Terkadang merasa butuh tempat untuk sharing atau berbagi cerita menyampaikan keluh kesah bersama orang tercinta. Karena untuk bercerita dengan orangtua rasanya sangat tidak enak bagiku. Harapanku mereka hanya cukup mendengar cerita baik dan senang dariku. Kalau cerita sedih atau luka cukup aku memendamnya sendiri.
Lagipula aku juga bukan tipe anak yang suka bercerita kepada orangtua apalagi hal-hal yang terjadi di tempat kerja. Orangtua mengajarkanku mandiri sejak kecil dan belajar bertanggung jawab atas apa yang aku kerjakan maupun apa yang aku lakukan. Terima kasih telah membesarkanku dengan penuh rasa percaya dan dengan cinta. Hihiii kalau bahas orangtua agak sedikit melow ya.
Dua puluh lima tahun umurku sekarang. Usia yang sudah cukup matang dan menjadikan aku wanita dewasa yang lucu nan imut tanpa kekasih dan pujaan hati. Hal yang terkadang aku sendiri tidak mengerti. Mengapa di usia yang sekarang untuk mencari pasangan sangat susah. Kadang aku yang suka eh dianya nggak. Dianya suka akunya nggak.
Begini amat ya seperempat abad. Apa-apa sangat terbatas dan cukup penat dengan rutinitas: pagi kerja malam tidur. Berasa tua di kalangan adik-adik sekolah dan sudah dipanggil tante sama anak teman-teman sekolah dulu. Padahal aku masih seperti 17 tahun yang sangat imut dan lucu. Rasanya masih belum terima dipanggil tante huaaah.
Merasa senang kerja di toko karena aku bisa cuci mata. Sedikit genit mata ini melihat mas-mas dan juga abang-abang yang cakep. Walaupun hanya melihat sudah cukup menghilangkan rasa lelah dan juga penat di tempat kerja. Bolehkah kita mengeluh? Ya bagiku setiap manusia pasti pernah merasakan jenuh dan lelah ketika semua yang kita harapkan tidak sesuai dengan ekpetasi. Hanya saja kita cuma bisa berharap dan tetap melanjutkan hidup seperti pada umumnya.
Motivasi untuk diri sendiri yaitu selalu bersyukur, dan yakin ke depan akan ada hal yang lebih baik menyambut kita kalau apa yang kita kerjakan saat ini dilakukan dengan ikhlas. Semangat selalu untuk kita para pejuang rupiah yang terlahir dari keluarga sederhana demi cita-cita yang luar biasa.
Ini ceritanya kenapa jadi kemana mana ya gaes wkwkwk. Semoga para pembaca tidak heran dan bosan ya karena ceritanya ngalur-ngidul ke sana-kemari hehehe. Salam hangat yang penuh cinta dari saya manusia biasa.




Leave a Reply