
Pagi itu seperti biasanya. Seperti pagi-pagi lain di Mathagia. Aku masuk jam tujuh pagi kemudian bersih-bersih lalu menyusun barang-barang ke etalase bersama Kak Penti. Di saat kami sedang menyusun barang, seorang ibu-ibu belanja.
Posisiku di dekat kasir, menyusun Masako rentengan ke rak yang kosong sementara Kak Penti merapikan produk minuman. Ibu yang belanja itu mendatangi kami lalu bilang sudah selesai belanja.
“Dek tolong ke kasir dulu,” kata Kak Penti padaku.
Aku pun segera ke kasir untuk melayani pembayarannya. Selesai aku nota semuanya, aku tanya ke ibu yang menunggu sambil main HP itu apakah dibayar tunai atau bon (utang). Ibu itu menjawab—sambil terus menatap layar HP—bahwa bon saja atas nama suaminya. Karena aku tidak menemukan nama suaminya di komputer aku minta NIK-nya saja.
“Biasanya namanya ada. Nomornya saya nggak tahu, lho kok jadi saya yang harus hapalin NIK suami,” kata ibu itu nyolot.
Tiba-tiba saya jadi ingat nama suaminya. Aku segera memasukan bon itu ke data suaminya biar si ibu cepat pulang. Lagian ibunya aneh, masa iya saya yang harus menghapal NIK suaminya sendiri. Begitulah cerita bulan ini di Mathagia.




Leave a Reply