
Senyuman lebar yang merekah dari pipi seorang kakak atau mentor di kelas saat masih kuliah terus mendekam dalam kepalaku. Sebut saja namanya Rama, idaman setiap perempuan di sekitarku saat itu.
Sikap dan kata-katanya membuatku semakin terpesona. Ibadahnya juga kuat, menjadi panutan kami sebagai adik mentornya. Mataku selalu tertuju pada beliau. Ia tahu lalu sesekali membalas dengan senyuman. Saat itu rasanya aku terbang melayang tanpa arah.
Alunan musik mengiringi kami latihan diatas panggung untuk acara penutupan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) malam itu. Satu persatu balon dan juga hiasan lain mulai dipasang di panggung dan ruangan. Anak anak sangat antusias dan semangat demi menyukseskan acara penutupan.
Saat itu aku akan menampilkan tarian penyambutan, yaitu Tari Pesembahan yang berasal dari Bengkulu. Menari adalah salah satu keahlianku. Sejak kecil aku senang menari karena suka tampil di depan orang banyak. Aku merasa menjadi perhatian.
Malam yang dinanti akhirnya tiba. Setelah penampilanku, Rama muncul di hadapanku dengan seyuman khas seolah merayuku untuk terus menikmati keindahan wajahnya. “Fira penampilan kamu keren sekali, good job!“
Seketika jantungku berdetak begitu kencang, kegirangan mendengar pujiannya, sosok mentor yang selama ini selalu aku kagumi dari kejauhan. Sebenarnya kami sudah beberapa kali berbalas pesan membahas berbagai program, tetapi tetap saja ketika dia menyapaku, jantungku berdebar kencang.
“Fira kita foto bareng yuk,” ajak Rama dan tentu saja aku tidak menolaknya.
Usai sudah cerita kami malam itu. Bulan berikutnya dia pindah ke tempat lain, bekerja sebagai asisten dosen di salah satu Universitas di Bengkulu. Berakhir pula kisah kekaguman itu. Namun, terima kasih telah menjadi panutan di masa masa itu.




Leave a Reply