Perpisahan SMP, yang Bandel Menangis Lebih Keras

Dok. Wikihow

Halo sobat literasi, kenalkan namaku Silfia Yunita Sari. Akrab dipanggil Silfi. Perempuan 15 tahun ini sedang berada di persimpangan waktu, antara SMP dan SMA, antara seragam putih-biru dengan abu-abu.

Sebentar lagi aku akan menjadi murid SMA. Tapi ada satu momen yang tidak akan pernah aku lupakan saat masih berstatus sebagai siswi SMP. Hari itu adalah momen penutup sebagai murd SMP.

16 Mei 2026. Kami, anak-anak kelas 9 bersama para guru berkumpul dalam satu ruangan kemudian melingkar memulai acara pelepasan. Setiap guru membacakan surat siswa. Kami menundukkan kepala.

Hari itu perasaan campur aduk. Ada canda, tawa, dan tangis. Aku merasa titik itu cukup sulit untuk melupakan cerewetnya Miss Erna, randomnya Pak Daniel, moodnya Bu Asih, jamkosnya Pak Doni, banyaknya catatan Bu Diana, jeweran Bu Donda, bisikan Bu Lili, praktik dadakan dari Pak Jelin, dan kehebohan Bu Juni.

Hari itu adalah momen bersejarah di mana untuk pertama kalinya melihat temanku yang laki-laki, yang bandel banget: jarang buat tugas, jahil, dan songong menangis mendengarkan kata-kata guru. Heran ternyata mereka bisa nangis juga.