Satu Jepretan Seumur Hidup

Dok. The Roku Channel

Tahun 90-an punya foto (kamera) saja udah mewah. Apalagi foto warna, hasil kamera Kodak saku. Di desaku yang punya kamera bisa dihitung jari. Kalau ada yang bawa kamera pas kondangan atau 17 Agustus-an, langsung dikerubungin, kayak artis.

Waktu itu umurku sekitar 10 Tahun kelas 4 SD. Ada tukang foto keliling bawa kamera Kodak. Tarifnya lumayan, satu jepretan sepertinya 1.500 perak. Uang segitu bisa buat beli pempek lenjer tiga biji plus es serut. Jadi kalau mau foto ya harus nabung dulu, mikirnya seminggu.

Hari itu aku nekat. Uang jajan dikumpulin, nggak jajan es lilin dan karet gelang. Pas beneran cukup, aku lari ke tukang foto. Degdegan soalnya cuma mampu satu kali “cekrek” doang. Nggak ada pengulangan, nggak ada gaya cadangan.

Tukang fotonya nanya, “Dek, mau gaya gimana?” Aku bengong. Panik. Takut salah pose. Akhirnya berdiri tegak, tangan di samping, senyum ditahan biar nggak kelihatan gigi ompong. “Udah, pas gitu,” katanya. Lalu cekrek. Suaranya pelan, tapi buatku kayak suara petir. Sah, satu momen hidupku sudah diabadikan.

Klisenya nggak langsung jadi. Katanya bisa ambil minggu depan. Tiap hari aku lewatin lapak tukang foto itu lalu tanya apakah foto sudah jadi atau belum. Seminggu rasa setahun. Dan pas fotonya jadi, ukuran 2R. Agak buram dan terpotong sedikit. Tapi itu harta karun. Satu jepretan itu berharga banget karena dibayar pakai puasa jajan dan doa semoga nggak merem.