Setelah Berak di Celana, Eko Pulang Jalan Kaki

Aku masuk Sekolah Dasar (SD) tahun 1994. Aku didaftarkan Bapakku ke SD Negeri 4 Desa Gedung Wani Lampung Timur. Di kelas satu kami belajar membaca. Pertama-tama menghapal huruf dari A-Z, mengeja kata, dan membaca kalimat.

Ilustrasi SD (Dok Istimewa)
Ilustrasi SD (Dok Istimewa)

Sampai sekarang aku masih ingat kalimat yang harus kami baca: “Ini Budi”, “Ini Ibu Budi”, “Budi Lapar”, “Ini Bapak Budi”, dan seterusnya bersama Ibu Sumiatun. Beliau sangat berjasa karena membuat kami bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Selain belajar membaca, yang sering sekali terkenang adalah kisah temanku si Eko. Setelah berminggu-minggu sekolah, kami berteman satu sama lain dan saling kenal. Eko adalah temanku yang pemalu dan penakut bahkan untuk ke WC saja dia tidak berani.

Ketika pelajaran terakhir dimulai Eko sangat ingin ke WC tapi tidak berani bilang ke aku bahkan ke Ibu Sumiatun. Wajahnya pucat menahan perutnya yang sejak lama sudah minta dibawa ke kamar kecil. Saat Ibu Guru menanayainya Eko berbohong bahwa dia baik-baik saja.

Kelasku yang tadinya hening tiba-tiba ribut. Kelasku tiba-tiba saja bau. Ada teman bertanya dengan suara keras, “Siapa nih yang berak?” yang langsung membuat kami saling tuduh. Tapi tidak ada yang mengaku juga. Ibu Guru pun menanyai murid satu per satu, tidak ada yang mengaku juga. “Teng..teng..” saling tuduh dihentikan suara lonceng pulang.

Saat berjalan ke luar kelas tiba-tiba kotoran Eko jatuh ke lantai kelas, “plek” begitu bunyinya. Ternyata bau yang menyengat selama pelajaran tadi adalah kotoran Eko yang keluar di celana. Melihat itu teman-teman langsung berteriak lalu menutup hidung sedangkan Eko menutupi mukanya dengan tas punggung, malu.

Ibu Siti segera mengatasi kondisi tersebut, dengan sabar membersihkan kotoran Eko yang jatuh ke lantai. Setelah bersih Eko mulai berjalan pelan-pelan lalu pulang ke rumah jalan kaki.

Edi Susanto
Guru Sekolah Tenera



Genre:

Tema: