
Bulan lalu saya menonton film dokumenter berjudul “Wisisi NIt Meke” bersama komunitas Dengerin Bareng-bareng (Debarbar). Kami menonton di Bolo Space, sebuah cafe punya seorang kawan di kawasan Kota Baru Yogyakarta. Cafe itu punya ruang terbuka luas di area belakang sehingga bisa menampung kawan-kawan lingkar komunitas yang ingin menonton.
Nonbar digelar malam hari. Bermodal pengeras suara seadanya dan layar putih yang tidak terlalu besar. Rencananya kick off pemutaran jam tujuh malam tetapi molor sekitar 30 menit karena banyak kawan-kawan yang mengirimkan pesan singkat bahwa mereka terjebak macet. Memang sih malam itu hampir tiap jalan, dari primer sampai tersier, penuh kendaraan. Maklum, long weekend.
Film yang diproduseri Wok The Rock dan diarahkan Arif Budiman, Harun Rumbarar, dan Bonny Lany itu dibuka dengan memperkenalkan para kolaborator yang membuat sekaligus mendukung pembuatan “Wisisi NIt Meke”. Ada Project Multatuli, Papuan Voices, Sharjah Art Foundation, dan Yes No Wave Music.
Mereka mendokumentasikan geliat musik Wisisi di Papua hari ini lewat kacamata para pegiatnya seperti Asep dan Nikolas. Asep menjadi ‘pencerita’ yang mencari tahu asal muasal musik yang ia bikin itu. Musik Wisisi, dari dokumenter itu–yang saya tangkap tentunya–menggabungkan musik elektronik dengan tradisional, khususnya instrumen pesek.
Suara dari petikan pesek itu dipadupadankan dengan dentuman musik-musik elektronik populer sehingga melahirkan irama yang bikin badan kesemutan bila tidak bergoyang. Mulanya, dari penuturan Asep, eksperimen mereka itu banyak ditentang karena dianggap mengecilkan budaya dan tradisi. Namun mereka pantang menyerah, terus membuat musik dengan cara swadaya, memanfaatkan apa yang ada.
Mereka bersikeras mempertahankan Wisisi yang berasal dari Pegunungan Tengah, Papua. Istilah Wisisi lahir dari onomatope (tiruan bunyi dari manusia, tumbuhan, alam. Contoh: meong, meong kucing) dalam ritual atau tradisi yang dilakukan bersama alat musik tradisional pesek/wikalu. Keajaiban bunyi dari suara alat musik tradisional dengan elektronik ini lama-lama disukai dan posisinya sudah melebihi Reggae dan Hip Hop yang sudah lebih dulu populer di Papua. Wisisi telah menemani pinang di tiap tongkrongan.

Dari film dokumenter yang mendapatkan penghargaan Piala Citra di Festival Film Indonesia itu, kita bisa sedikit mengerti tentang budaya pop di Papua terutama posisi musik di sana. Bagi masyarakat Papua, keberadaan musik itu sangat penting, senantiasa mengisi kehidupan warga Papua dalam berbagai aktivitas, mulai dari ritual tradisi, perayaan keagamaan, hingga pengiring aksi protes.
Riwayat dan jejak musik Wisisi di Papua dipadatkan dalam film dokumenter itu. Pemaparan lewat teks dan pandangan narasumber dalam dokumenter melahirkan banyak fakta yang memperkaya data sekaligus dinamika film. Ditambah lagi dengan visual yang cukup menggoda, film ini tidak membosankan.
Usai nonton setidaknya ada dua hal lain–di luar visual–yang membuat saya terkesan, pertama hasil wawancara dengan Nikolas. Saking cintanya dengan musik Wisisi, Nikolas yang tinggal di pegunungan tanpa listrik itu nekat mengisi daya laptop dengan aki sehingga meledak.
“Laptop itu saya dapat dari hasil bohong. Saya bilang ke nenek, ‘Nenek sa tidak bisa sekolah bila ta ada laptop’ lalu dibelikan. Laptop itu bukan buat sekolah, sa bikin musik dari sana,” terang Nikolas.
Momen itu bikin kami tertawa setelah sekian puluh menit menatap layar dengan mode serius. Momen kedua datang ketika Asep menemukan fakta tentang Arnold C.Ap bersama grup musik Mambesak. Arnold merupakan penyiar, kurator, sekaligus musisi yang mempopulerkan lagu-lagu berbagai macam suku di Papua bersama grup musik Mambesak. Arnold membungkus lagu-lagu itu dengan aransemen populer, pendekatannya sama seperti yang dilakukan Asep, Nikolas, dan pegiat lainnya. Salah satu lagu yang membuat Papua terkenal adalah “Apuse”.
Usai pemutaran, ada diskusi sebentar dengan Wok The Rock dan Arif Budiman. Mereka tidak hanya berkisah tentang proses produksi film yang cukup singkat ini melainkan juga tentang catatan perjalanan menuju ke sana plus. Bagi saya, “Wisisi Net Meke” salah satu film dokumenter terpenting abad ini karena menyajikan budaya pop Papua dari kacamata orang Papua, bukan Jawa apalagi Amerika.
Kapan-kapan kita cerita tentang Mambesak yak.




Leave a Reply