Sejarah Motor Butut

Foto: FB Nostalgia 80 dan 90an

Kebetulan tahun 1980 orangtua saya memiliki motor—walau butut—yang selalu parkir di depan rumah. Pada saat siang hari, ketika orangtua sedang tidur, saya  membawa motor menuju tanah lapang tanpa izin. Itulah untuk pertama kalinya saya pegang setang motor. Saat itu saya masih kelas 5 SD.

Sebelumnya saya bertanya kepada bapak. Yang pertama saya cari tahu adalah mana ‘rem’ dan bagaimana cara menggunakannya. Kedua, gas, lantas gimana cara mengaturnya dan bisa fokus. Setelah sampai di tanah lapang terus saya naiki  motor yang sudah di-stater (disela, nyalakan) tapi belum berani memasukan gigi jadi motornya belum bisa jalan. Terus, saya mainkan gas dan setelah stabil baru saya masukan gigi satu.

Tanpa menambah atau mengurangi gigi, saya terus berkeliling lapangan dengan gemetar dan berhati-hati. Suasananya sangat tegang. Setelah itu saya pulang dari lapangan, motor tetap jalan tanpa menghidupkan mesin.

Hari berikutnya, saya sangat penasaran mau mintak izin dan diajari orangtua tapi takut tidak diizinkan sehingga saya diam-diam menjalankan motor ke tanah lapang lagi secara mandiri tanpa pendamping. Di tanah lapang ada teman saya yang juga sedang belajar didampingi pengajar. Dia gak langsung dibiarin ngendarain sendiri.

Si pengajar ikut bonceng sementara teman saya memegang setang. Jadi, kalau misal ia kehilangan keseimbangan, ada si pengajar yang siap bantu. Saya memperhatikan cara mereka mengendari motor lalu saya tiru pelan-pelan. Saya menaiki motor kemudian langsung memasang gigi dua. Karena saya sudah bisa bersepeda, ada nilai plus dalam menjaga keseimbangan. Saya hanya melaju di jalan yang lurus dan ketika belok kaki saya tetap turun karena takut jatuh. Alhamdulillah saya bisa.

Keesokan harinya saya belajar lagi dengan mintak izin dahulu kepada orangtua dan  diizinkan. Namun, saya tetap belajar sendiri di lapangan. Saya sudah bisa mengendarai motor dari rumah. orangtua saya tercengang lalu berkata, “kapan kamu belajar Nak? Kok sudah bisa?” Sambil tersenyum saya menjawab sudah dua kali saat mamak tidur siang. Maaf ya Mak.

Saat belajar saya aman-aman saja.  Justru dapat musibahnya pas sudah lancar. Waktu itu gerimis. Saya boncengin saudara saya dan saat di tikungan ada lubang  tanah basah, pas sekali jalan saya mau belok. Saya tahu itu licin, makanya saya pelaann sekali dan hati-hati.  Mungkin memang sudah nasib, saya tetap aja jatuh tergelincir karena lubang tersebut.

Untungnya karena saat itu memang sudah hati-hati kami jatuh dengan pelan. Alhamdulillah kami gak papa cuma lecet dikit aja dan untungnya orang di sekitar juga sigap menolong. Mereka membantu kami mematikan mesin dan mengangkat motor.  Akhirnya melalui  kegigihan untuk bisa mengendarai sepeda motor, sekarang saya sudah lancar.