
Tik…tik…tik… air hujan mulai turun. Semakin waktu semakin deras. Lekas-lekaslah aku mempercepat langkah memberi makan kambing dengan rumput segar karena sore hari itu bapakku belum pulang mencari rumput.
Mbeeeek…mbeeeek… para kambing bersahut-sahutan. Keriuhan itu mendorongku mempercepat langkah. Tergopoh-gopoh aku memberi mereka rumput segar. Karena terburu-buru, ditambah tanah menjadi licin karena hujan turun semakin deras, aku terpeleset lalu terjatuh. Hatiku terasa sangat jengkel pada kambing-kambing peliharaan bapakku ini.
Sebenarnya kebencianku terhadap kambing-kambing sudah lama aku pendam karena waktu libur sekolah—di mana seharusnya aku dapat beristirahat—banyak habis untuk menggembala kambing ke belakang rumah lalu menggiring mereka kembali ke kandang.
Setiap sore, jika cuaca cerah aku juga menyapu sisa rumput-rumput kering sisa makanan kambing untuk dibersihkan kemudian dibakar sesegera mungkin agar lingkungan terlihat bersih. Asap pembakarannya dapat untuk mengusir nyamuk di kandang kambing. Momen terpeleset itulah kejadian puncak yang membuatku semakin membenci kambing-kambing peliharaan bapak yang berjumlah kurang lebih 25 ekor.
Pada saat heboh-hebohnya pencairan BSU dari pemerintah aku pun ikut heboh dan senang. Aku mengambil uang tersebut di Kantor Pos Pasar Sebelat. Uang aku dapat, hati pun riang. Uang BSU aku pergunakan untuk membeli bibit alpukat dari Lampung seharga Rp300 ribu dan sisanya untuk berobat ke dokter gigi.
Bibit alpukat datang, hijau subur dan sangat rimbun. Langsung saja aku letakkan di pinggir rumah tetapi tidak langsung ditanam. Keesokan harinya, setelah pulang sekolah aku bergegas melihat bibit alpukat di pinggir rumah dan apa yang terjadi? Bibit alpukatku tinggal tersisa batangnya saja.
Aku mengetahui siapa pelakunya. Aku melotot ke kandang kambing dan benar saja mereka tidak ada di dalam kandang. Semua berpesta ria memakan rumput di lingkungan rumah. Sejak saat itu aku menyimpan dendam dan sungguh merasa sangat benci pada hewan peliharaan bapak itu. Suara mereka saat itu terdengar seperti ejekan untukku. Tak hanya bibit yang dimakan tetapi juga bunga-bungaku. Semua tak tersisa. Baiklah kalian juaranya.
Aku tiba tiba saja teringat buku dari penerbit MOJOK yang berjudul Belajar Mencintai Kambing dari Mahfud Ikhwan. Buku itu menceritakan tentang seorang anak pada saat liburan sekolah ia sangat ingin sekali dapat membeli sepeda baru tetapi bapaknya malah membeli seekor kambing betina.
Tokoh bapak bilang bahwa kambing bisa membuat sang anak lebih dewasa sedangkan sepeda akan membuatnya tetap jadi anak-anak. Sang anak tersebut menolak, tidak suka akan kambing pemberian bapaknya tetapi lama-kelamaan—karena ia memelihara dan sering menggembala kambing di sore hari—ia menjadi lebih disiplin. Bisa mengatur waktu untuk sekolah, bermain dan waktu mengurus hewan ternak serta mengetahui jenis jenis rumput kesukaan kambing.
Menjelang sore ketika anak tersebut bangun tidur ia mendengar suara kambing dan melihat blantik kambing pergi dari rumahnya. Ternyata seekor kambing yang kedatangannya tak diharapkan ketika dijual oleh bapak membuatnya sangat sedih.
Setelah selesai membaca cerpen tersebut aku buru-buru pergi untuk melihat kambing kambing di kandang. Mereka dengan kompak mengembik, bersahut-sahutan. Aku terdiam lalu berkata oh kambing-kambing peliharaan bapakku, semoga suatu hari kelak dapat bermanfaat untuk keluarga kami.




Leave a Reply