Hal yang Dulu Terasa Biasa tetapi Kini Tinggal Ingatan

Dok. Wikihow

Berbicara tentang barang-barang yang dulu terasa mewah namun kini menjadi begitu biasa, rasanya satu buku belum tentu cukup untuk menampung semuanya. Salah satunya adalah Indomie goreng, makanan yang hari ini mungkin dianggap sederhana, bahkan remeh. Namun, jika ditarik ke masa lalu, ada masa sepiring Indomie goreng terasa seperti hidangan istimewa.

Saya ingat, dulu Indomie goreng sering hadir di momen-momen tertentu, terutama ketika sedang sakit. Entah mengapa, sakit seolah mengubah suasana rumah. Ibu menjadi jauh lebih lembut dan penuh perhatian. Ia akan datang dengan sepiring Indomie goreng hangat. Aromanya menggoda seakan hidangan mahal dari restoran. Dalam kondisi lemah, setiap suapan terasa lebih nikmat, bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena perhatian yang ikut menyertai.

Beranjak remaja, dunia saya mulai melebar. Saya mulai mengenal gaya, tren dan keinginan-keinginan baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Saya sangat ingin memiliki Walkman, pemutar musik yang menggunakan kaset pita dan headset.

Saya sering melihat orang berjalan di keramaian dengan headset di telinga, sambil mengangguk-anggukkan kepala, terlihat sangat keren dan trendi kala itu. Ada rasa iri yang tumbuh diam-diam, bercampur dengan keinginan untuk merasakan hal yang sama.

Namun, hingga sekarang, walkman itu hanya berakhir menjadi sebuah impian yang tak pernah bisa diwujudkan. Harganya terlalu mahal untuk anak sopir truk seperti saya. Saya akhirnya cukup menikmati musik dari radio kecil yang dibeli bapak dari uang sisa THR. Radio itu bukan sekadar barang tapi seperti anggota keluarga yang punya jadwalnya sendiri.

Siang hari, radio itu ada di kamar saya, menemani dengan tangga lagu yang selalu ditunggu dengan sabar. Saya hapal beberapa lagu hanya dari mendengar berulang-ulang, meski tak pernah tahu judul dan penyanyinya. Sore hari, radio itu berpindah tangan ke ibu. Tidak ada yang berani mengganggu, itu waktunya ibu memastikan azan magrib. Suara penyiar pelan-pelan berganti dengan lantunan azan yang memenuhi rumah.

Malam hari, radio itu menjadi milik bapak. Ditemani kopi dan lelah setelah seharian bekerja, bapak duduk santai sambil mendengarkan sandiwara radio seperti Saur Sepuh. Suara adu pedang, derap langkah kuda, dan dialog para tokohnya terdengar begitu nyata. Saya sering ikut duduk diam, pura-pura tidak tertarik, padahal ikut tenggelam dalam cerita.

Yah, begitulah kehidupan anak milenial kala itu. Setelah era radio, perlahan hadir televisi yang membawa dunia baru ke dalam rumah. Hari Minggu menjadi lebih meriah dengan deretan serial kartun yang menyenangkan. Pagi terasa lebih cepat datang, hanya karena tidak sabar menunggu acara favorit dimulai.

Jika Tukang Kebun bertanya, apa barang yang dulu terasa mewah dan sangat diinginkan, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi? jawabannya mungkin bukan sekadar benda. Justru hal-hal yang dulu terasa biasa, tapi kini hanya tinggal ingatan yang samar, seperti aroma bapak sehabis mandi yang khas, suara bentakannya saat mengaji atau pekerjaan mencabut uban yang dibayar 25 rupiah per helai. Al-Fatihah untuk bapak, 32 tahun ini tidak mudah, tapi anakmu BISA.