Sheila On7, Padi, dan Peter Pan di Bawah Langit Padang Ulak Tanding

Dok. Wikihow

Dahulu, sewaktu saya masih berseragam di SMUN 1 Padang Ulak Tanding, benda paling mewah yang selalu menghantui mimpi saya bukanlah mobil sport, melainkan walkman dan discman. Bagi saya yang saat itu masih remaja, alat itu adalah keajaiban.

Bayangkan saja, kita bisa membawa lagu-lagu kesayangan ke mana pun kaki melangkah! Ada kebanggaan tersendiri saat menenteng pemutar kaset atau CD itu di tangan, merasa diri sudah menjadi anak paling keren se-Bengkulu Utara karena bisa mendengar musik tanpa batas waktu dan tempat.

SMA memang masa yang paling berisik dalam arti positif bagi saya. Selain berkutat dengan rumus-rumus yang sekarang jadi makanan sehari-hari saya sebagai guru fisika, dulu saya sangat gemar bermain musik dan mendengarkan lagu.

Tiada hari tanpa dentuman nada. entah itu memetik gitar di jam istirahat atau sekadar duduk di pojok kelas dengan earphone terpasang di telinga. Musik bukan sekadar hobi, tapi sudah menjadi identitas yang melekat erat pada masa-masa putih abu-abu saya yang penuh warna.

Secara ilmiah—dan ini sering saya selipkan di sela pelajaran fisika—musik memang punya kekuatan yang luar biasa. Bagi saya pribadi, lagu-lagu adalah obat ampuh untuk menenangkan pikiran penat setelah seharian belajar atau justru menjadi penyemangat saat hati sedang kelabu. Ada frekuensi tertentu dari sebuah nada yang bisa mengubah mood seseorang dalam sekejap, membuat dunia yang terasa berat menjadi jauh lebih ringan untuk dijalani.

Jika ditanya soal playlist, ingatan saya pasti langsung terbang ke era 2000-an. Masa itu adalah masa keemasan bagi band-band legendaris seperti Sheila on 7, Padi, atau Peterpan. Saya masih ingat betul perjuangan memutar pita kaset menggunakan pensil hanya demi menghemat baterai walkman agar bisa mendengarkan lagu “Dan” atau “Semua Tak Sama” berulang kali. Lagu-lagu tersebut adalah mesin waktu yang membawa saya kembali ke awal milenium.

Kini, di tengah hiruk-pikuk tugas saya mengajar di SMAS Tenera, walkman dan discman mungkin sudah dianggap purba, kalah saing dengan smartphone. Namun, bagi saya, alat-alat itu tetaplah benda unik yang menyimpan kenangan terindah bersama teman-teman SMA pada masanya.

Meskipun barangnya sudah tidak ada lagi di pasaran, getaran nostalgia yang ia ciptakan tetap abadi, seiring dengan tawa dan persahabatan yang pernah terjalin di bawah langit Padang Ulak Tanding puluhan tahun silam.