Tiket Konser Coboy Junior yang Tidak Pernah Akan Ada Lagi

Dok.Wikihow

Dulu, duniaku terasa berputar di sekitar empat nama Aldi, Bastian, Kiki, dan Iqbal. Di masa SMP, tidak ada percakapan yang lebih seru daripada video klip terbaru mereka. Kami berebut siapa yang paling pantas menjadi “pacar” khayalan salah satu personel.

Di antara semua keinginan masa kecil aku, hanya ada satu impian yang menjadi prioritas utama: selembar tiket konser Coboy Junior.

Aku masih ingat betul saat mulai menyisihkan uang jajan setiap hari. Di dalam sebuah celengan plastik kecil, aku memasukkan lembar demi lembar uang dua ribu atau lima ribu rupiah dengan penuh harapan. Di pikiran aku saat itu, tiket tersebut bukan sekadar kertas masuk ke dalam gedung pertunjukan, melainkan sebuah langkah untuk menuju kebahagiaan tertinggi sebagai seorang Comate.

Aku membayangkan mengenakan kaos seragam fans, membawa lightstick bersinar di tengah kegelapan, dan ikut berteriak histeris saat lagu “Kamu” mulai dinyanyikan.

Akhirnya waktu itu mereka mengadakan konser di Bengkulu. Aku sangat bersemangat untuk ikut dalam kemeriahan konser yang ada di kotaku.

Akungnya, keinginanku pupus karena orangtua tidak mengizinkan aku pergi. Alasannya karena jarak venue yang jauh dan aku belum cukup umur untuk pergi sendiri. FYI, waktu tempuh rumahku dengan venue memakan waktu empat jam perjalanan, jadi jelas orangtuaku tidak akan setuju. Yap, kenyataan pahit itu harus aku terima. Mau bagaimana lagi.

Setiap kali melihat iklan konser mereka di kota lain melalui layar televisi, ada rasa iri yang dalam diri ini. Ada kecamuk. Aku sering berandai-andai, mungkin tahun depan atau tahun berikutnya lagi aku bisa ikut konser itu. Sambil menunggu, aku tetap membangun semangat menabung demi mencapai tujuan itu. Dalam hati aku yakin, aku pasti bisa datang. Aku memang ambisius.

Namun, kenyataan pahit datang tanpa permisi. Berita buruk itu seperti petir di siang bolong. Dimulai dari keputusan Bastian hengkang, hingga akhirnya grup yang lagu-lagunya menjadi soundtrack masa remajaku itu benar-benar bubar.

Dalam sekejap, tabungan kehilangan tujuannya. Celengan yang hampir penuh itu terasa berat namun hampa. Barang yang aku incar selama bertahun-tahun: tiket konser dengan formasi lengkap itu kini secara resmi tidak akan pernah ada lagi.

Aku menyadari bahwa yang hilang bukan hanya kesempatan untuk melihat mereka menari dan bernyanyi di atas panggung secara langsung. Yang hilang adalah sebuah momen untuk merayakan masa remaja aku secara utuh. Tiket itu kini telah bermutasi menjadi sebuah kenangan yang tidak bisa dibeli dengan nominal berapa pun.