Drama Paling Drama di Mathagia

Dok. Wikihow

Jam lima sore Mathagia udah penuh kayak konser. Antrian gas 3 kilo ngular sampai jalan pabrik sebelah. Aku pegang kertas nomor antrian, muka sudah pasrah. Ada ibu-ibu bawa tiga tabung sekaligus sambil gendong bayi. Bapak-bapak ngopi pakai cangkir ngemper di pinggir jalan.

Puncaknya jam setengah enam petang. Truk gas datang, telat satu jam. “Stok Cuma 80 tabung!” teriak petugas. Langsung ricuh.

Tante-tante yang dari jam tiga sore ngegas: “Saya nomor 12! Jangan serobot!”.

Mas-mas tukang panen nyalip, “Mbak saya cuma ngisi satu, mau ngejar pulang.”.

Ibu-ibu live FB: “Guys ini kita lagi survival mode ya.”

Yang paling heboh, perempuan berjuluk Tante Spirtus. Bawa surat miskin, KTP tiga lembar, plus foto anak lima. Orasi 10 menit menuntut jatah. Pas dikasih dua tabung, dia bisik begini: yang 1 buat dijual lagi, lumayan.

Akhirnya jam 7 malam nomor 35 dapet giliran. Buka HP lihat notifikasi: gas melon langka. Dia ketawa. Besok ngantri lagi.

Epik. Di negeri +62, drama paling drama bukan di televisi tapi di antrian gas subsidi. Menguji kesabaran karena banyak macam konsumen di sini. Kalau gak dapat gas bisa-bisa kami diamuk. Sudah kayak rebutan harta gono gini hahahaha.